KATAMEDIA, SAMARINDA – Minat investor untuk menanamkan modal di sektor energi baru terbarukan (EBT) di Kalimantan Timur terus meningkat menjelang 2026.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, mengungkapkan bahwa selain potensi pengembangan energi berbasis sawit, sejumlah sektor EBT lain mulai menjadi incaran para pengembang.
Salah satu yang kini menjadi fokus adalah teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Menurut Seno Aji, Pemerintah Provinsi Kaltim saat ini tengah berkomunikasi dengan tiga perusahaan yang secara khusus menawarkan investasi pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA).
Ketiganya bahkan disebut telah menyampaikan proposal yang dinilai sangat menarik, termasuk pemberian kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) yang signifikan.
“Saat ini yang paling banyak masuk ke kita adalah pengembangan PLTSA. Ada tiga kompetitor yang siap berinvestasi di Kaltim, dan semuanya menawarkan skema bisnis yang sangat menarik. Mereka bukan hanya ingin membangun, tapi juga memberikan nilai tambah yang cukup besar untuk PAD kita,” ujar Seno Aji.
Ia menjelaskan, teknologi PLTSA dinilai cocok dengan kebutuhan daerah, terutama kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan yang menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan sampah.
Dengan model kerja sama yang ditawarkan investor, pemerintah daerah tidak hanya mendapatkan solusi pengolahan sampah jangka panjang, tetapi juga pasokan listrik tambahan yang dapat mengurangi beban energi konvensional.
Seno Aji menambahkan, minat investor terhadap PLTSA menunjukkan bahwa Kaltim mulai dipandang sebagai wilayah strategis bagi pengembangan energi bersih.
Selain faktor kebutuhan, kesiapan regulasi dan percepatan layanan perizinan juga menjadi daya tarik utama. Pemprov Kaltim berkomitmen memastikan seluruh proses berjalan transparan dan kompetitif.
“Besok kita akan melakukan pembahasan lanjutan untuk memfinalkan arah kebijakan. Kita ingin memastikan bahwa proyek yang dipilih bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberi manfaat lingkungan dan sosial dalam jangka panjang,” jelasnya.
Selain PLTSA, Pemprov Kaltim juga terus mengevaluasi peluang investasi EBT lain seperti biomassa, tenaga surya, dan waste-to-energy skala industri. Meski sawit menjadi komoditas yang selama ini banyak dibahas dalam konteks EBT, Seno menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang seluas-luasnya untuk solusi energi berbasis inovasi baru.
Dengan masuknya beberapa investor sekaligus, Pemprov Kaltim kini memiliki kesempatan untuk memilih teknologi terbaik yang sesuai dengan kebutuhan daerah serta kemampuan fiskal pemerintah.
Finalisasi rencana investasi diperkirakan akan dilakukan pada awal 2026 setelah seluruh analisis teknis dan finansial rampung.
“Intinya, Kaltim sangat siap menjadi daerah yang lebih mandiri energi dan lebih bersih. Kita ingin memastikan transformasi energi ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” tutup Seno Aji (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).








