KATAMEDIA, SAMARINDA – Wacana menghadirkan wisata akuatik berskala besar di Kalimantan Timur kembali memperoleh sorotan baru. Dalam forum diskusi pariwisata yang digelar pekan ini, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn, membuka peluang bahwa ke depan provinsi ini bisa saja memiliki wahana wisata buatan seperti mini sea world atau akuarium raksasa yang menjadi ikon baru di Samarinda atau Balikpapan.
Meski begitu, gagasan tersebut masih tertahan oleh satu kendala mendasar: ketersediaan lahan provinsi yang benar-benar siap digarap investor.
“Kita ini kaya laut, ekosistemnya besar, potensi ekowisatanya tidak terbatas. Sebenarnya investor ada yang tertarik. Tidak perlu sebesar Ancol. Cukup kelas akuatik Jakarta saja sudah luar biasa,” ujar Ririn dalam forum diskusi tersebut.
Meski begitu, ia menegaskan hingga kini pemerintah provinsi belum memiliki satu pun lahan sekitar 100 hektare yang benar-benar “free and clear” untuk ditawarkan secara serius kepada calon investor. Melalui PT SPV, beberapa investor luar sebenarnya sudah mulai melirik, namun semuanya masih terkendala kepastian lahan.
“Investor pasti ingin tanah yang bersih, tidak bermasalah. Itu yang belum kita punya,” tambahnya.
Ririn juga mengingatkan bahwa rencana pembangunan akuarium modern di Kaltim bukan kali pertama muncul. Bahkan pernah ada rencana besar dari pihak media nasional yang sempat heboh belasan tahun lalu namun akhirnya tak terealisasi.
“Dulu ribut sekali sampai media lokal memberitakan terus. Tapi ya tidak jalan,” kenangnya. Ia berharap momentum pengembangan pariwisata Kaltim yang semakin progresif mampu membuka peluang baru bagi investor di masa mendatang.
Sementara itu, seorang praktisi pariwisata dari Politeknik Negeri Samarinda memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, pembangunan akuarium raksasa tidak bisa hanya didorong oleh semangat menghadirkan ikon baru. Ada faktor kelayakan ekonomi yang harus diukur secara realistis.
“Pertanyaan utamanya bukan investor ada atau tidak. Tapi apakah ini menguntungkan? Pemerintah mau bangun? Usaha pemerintah yang benar-benar menghasilkan itu hampir tidak ada,” ujarnya.
Ia menilai investor enggan masuk bukan semata soal tanah, tetapi juga karena sulitnya memprediksi keuntungan.
“Kenapa wisatawan harus datang ke Samarinda untuk lihat akuarium, kalau di kota lain sudah ada yang lebih besar dan lebih murah?” tanyanya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang pelaku pariwisata.
“Kita bukan wisatawan. Kita produsen. Kalau cara berpikirnya masih seolah-olah kita membangun untuk diri sendiri, itu tidak akan jalan,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum menciptakan produk wisata buatan, pemerintah perlu memastikan apa keunggulan kompetitif yang hanya dimiliki Kaltim. Jika hanya meniru destinasi lain, Kaltim akan selamanya menjadi follower.
Ia mencontohkan bagaimana infrastruktur dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri. Rest area di jalan tol Balikpapan–Samarinda, misalnya, sudah bukan sekadar tempat singgah, tetapi menjadi ruang wisata spontan yang dinikmati masyarakat.
“Tanpa sadar, kita berwisata menikmati infrastruktur,” jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa Samarinda kini sudah cukup siap menjadi tuan rumah pertemuan nasional (MICE), yang justru memberikan dampak ekonomi lebih besar dibanding wisata massal konvensional.
“Ini yang sering dilupakan. Wisata MICE membawa uang dari daerah lain ke Samarinda,” tegasnya.
Diskusi tersebut menggarisbawahi bahwa masa depan wisata alternatif di Kaltim—termasuk rencana kehadiran akuarium raksasa—memerlukan strategi lebih matang. Tantangan yang harus dibenahi antara lain:
1. lahan investasi yang siap dan legalitas bersih,
2. identitas pariwisata yang tidak sekadar meniru daerah lain,
3. penguatan infrastruktur sebagai tulang punggung destinasi,
4. analisis pasar yang realistis agar investasi tidak berujung gagal.
Ririn menutup dengan optimisme bahwa pintu peluang masih terbuka. “Harapan teman-teman adalah harapan saya juga. Semoga ke depan ada jalannya,” ujarnya.
Jika pemerintah dan akademisi dapat selaras membangun fondasi yang kuat, bukan tidak mungkin Kaltim dalam beberapa tahun mendatang akan memiliki destinasi wisata akuatik modern yang bukan hanya ikonik, tetapi juga berkelanjutan dan bernilai ekonomi bagi daerah (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).







