KATAMEDIA, SAMARINDA – Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Ir. H. Seno Aji, menegaskan bahwa program Gratis Pendidikan untuk Semua (GratisPol) akan menjadi salah satu kebijakan pendidikan paling ambisius dan komprehensif di Indonesia.
Program yang digagas Pemerintah Provinsi Kaltim ini diproyeksikan menjadi pionir nasional karena memberikan akses pendidikan gratis mulai dari jenjang SMA/SMK hingga S3, sesuatu yang belum diterapkan secara penuh oleh provinsi lain di tanah air.
Dalam penyampaiannya di hadapan ratusan mahasiswa, Seno Aji menyebut bahwa kebijakan pendidikan gratis sebenarnya bukan gagasan baru secara global.
Negara-negara Eropa, serta beberapa daerah di Indonesia seperti Papua, telah menerapkan model serupa sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa skala implementasi GratisPol membuat Kaltim menjadi yang pertama di Indonesia.
“Program ini satu-satunya di tanah air. Kaltim menjadi provinsi pertama yang menjalankan pendidikan gratis secara menyeluruh. Tepuk tangan untuk Kaltim,” katanya.
Seno Aji kemudian menjelaskan bahwa masih banyak mahasiswa yang mempertanyakan cakupan program tersebut.
Banyak yang mengira bahwa GratisPol akan menanggung seluruh kebutuhan mahasiswa, termasuk biaya kos dan biaya hidup. Ia menegaskan bahwa sesuai konsep awal, pendidikan gratis adalah penghapusan biaya sekolah, termasuk UKT di jenjang perguruan tinggi.
“Jangan kaget kalau nanti ada yang bertanya, ‘Pak, katanya GratisPol, kenapa yang dibiayai cuma UKT?’ Nah, namanya pendidikan gratis memang fokus pada pembiayaan sekolah,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah provinsi tidak menutup mata terhadap kebutuhan mahasiswa di luar biaya pendidikan.
Seno Aji menyampaikan bahwa Pemprov Kaltim telah membangun kerja sama strategis dengan seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk memperluas manfaat GratisPol.
Bupati dan wali kota se-Kalimantan Timur telah dikumpulkan dan akan diberi mandat untuk menyediakan fasilitas tambahan bagi mahasiswa asal daerah masing-masing.
“Mereka akan kami wajibkan menyediakan asrama dan memberikan living cost atau biaya hidup melalui skema beasiswa kabupaten. Jadi jangan khawatir, dukungan tidak berhenti pada UKT saja,” jelasnya.
Selain menjadi program bagi warga lokal, GratisPol juga membuka kesempatan bagi pelajar dari luar daerah, dengan syarat tertentu.
Seno, menegaskan bahwa mereka tetap bisa mengakses program tersebut apabila menjadi warga resmi Kaltim selama minimal tiga tahun.
“Kalau ada pelajar dari luar Kaltim yang ingin mendapatkan kesempatan ini, silakan sampaikan kepada orang tua untuk berpindah domisili. Tiga tahun kemudian mereka bisa menjadi penerima GratisPol,” tambahnya.
Cakupan yang meliputi pendidikan menengah hingga pascasarjana, Pemerintah Provinsi Kaltim menargetkan GratisPol akan menjadi fondasi kuat dalam mencetak Generasi Emas Kaltim 2045.
Program ini diharapkan mampu mengurangi kesenjangan pendidikan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah, serta membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tanpa hambatan biaya.
Pemprov Kaltim berkomitmen terus memperkuat kolaborasi lintas sektor sehingga GratisPol tidak hanya menjadi kebijakan populis, tetapi benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan Kalimantan Timur (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).









