Sri Puji Astuti Dorong Perlindungan Siswa di Tengah Kabut Asap, Akses Internet Jadi Sorotan

ktmd - katamedia.co
Senin, 19 Okt 2026 02:21 WITA
Kabut asap yang menyelimuti sebagian kota Samarinda beberapa waktu terakhir/doc
Kabut asap yang menyelimuti sebagian kota Samarinda beberapa waktu terakhir/doc

KATAMEDIA, SAMARINDA – Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Selain belum sepenuhnya efektif, keterbatasan perangkat elektronik dan akses internet membuat sebagian siswa sekolah dasar kesulitan mengikuti pembelajaran dari rumah.

Menanggapi hal tersebut, wakil ketua komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai PJJ memang belum mampu menggantikan efektivitas pembelajaran tatap muka.

Namun, dalam situasi kualitas udara yang memburuk, kebijakan tersebut tetap diperlukan untuk melindungi anak-anak dari risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Baca juga  Helmi Abdullah Dorong PPBK Kaltim Jadi Wadah Pererat Persaudaraan

“Kalau kita bilang efektif atau tidak efektif, memang PJJ ini tidak efektif. Tapi saat ini kondisi udara sedang tidak baik-baik saja,” Ungkap Puji sapaan karibnya. Senin (19/10/2026).

Sejumlah sekolah dasar di Kecamatan Sambutan, di antaranya SDN 004 Samarinda dan SDN 010 Sambutan, diketahui menerapkan pembelajaran dari rumah sebagai respons terhadap kondisi udara yang memburuk.

Sri Puji menegaskan, keselamatan siswa harus menjadi prioritas dibandingkan memaksakan pembelajaran tatap muka ketika paparan kabut asap berpotensi mengganggu kesehatan.

“Dengan kondisi cuaca dan udara yang buruk, tentu kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita terpapar yang mengakibatkan memburuknya kondisi mereka,” Tegasnya.

Baca juga  Era Jospol, Pengembangan Desa Wisata Kaltim Diproyeksikan Melonjak

Kendati demikian, penerapan PJJ masih menghadapi persoalan pemerataan akses pendidikan. Sejumlah orang tua mengeluhkan keterbatasan fasilitas, terutama telepon pintar, laptop, dan jaringan internet yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar daring.

Puji mengakui, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang perlu dicarikan solusi agar seluruh siswa tetap memperoleh kesempatan belajar.

“Ini tentu menjadi pekerjaan rumah kita. Tapi itu bisa kita akali dengan memberikan tugas yang dikumpulkan saat tatap muka berlangsung nanti,” Ucapnya.

Menurutnya, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan memberikan materi dan tugas yang bisa dikerjakan siswa di rumah.

Baca juga  Puji Minta Lakukan Evaluasi Total Terhadap Kasus Kekerasan di Panti Asuhan

Namun, skema tersebut tetap perlu mempertimbangkan kemampuan setiap keluarga dalam menyediakan perangkat pendukung.

Ia menilai, tanpa solusi yang sesuai dengan kondisi siswa, pembelajaran jarak jauh berisiko tidak berjalan optimal, terutama bagi anak-anak yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk mengakses materi dari guru.

Politisi dari partai Demokrat itu berharap kualitas udara di Samarinda segera membaik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara tatap muka.

“Harapannya, PJJ ini dapat segera berakhir dan kondisi udara segera membaik,” Tutup Puji. (ADV/DPRD Kota Samarinda).

Bagikan:
Berita Rekomendasi