
KATAMEDIA, Sangatta- Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) terus mematangkan dua program unggulan yang berfokus pada pemenuhan hak anak, yakni Sekolah Ramah Anak dan Puskesmas Ramah Anak.
Kedua program ini telah menjalani proses evaluasi dan penilaian sejak September 2025.
Pada Oktober 2025, DP3A Kutim mengumumkan hasil penilaian lomba untuk menilai sejauh mana sekolah dan fasilitas kesehatan siap menerapkan standar ramah anak.
Penilaian ini dibimbing fasilitator tingkat nasional agar seluruh proses sesuai pedoman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA).
Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim, Rita Winami, menyatakan bahwa tujuan utama program ini adalah memastikan sekolah dan puskesmas benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak.
“Program ini harus lebih dari sekadar formalitas. Lingkungan yang ramah anak harus nyata di lapangan,” ujarnya, Selasa, 18 November 2025.
Rita menambahkan, penguatan kedua program ini merupakan langkah konkret menuju Kabupaten Layak Anak (KLA). Ia menegaskan bahwa Sekolah dan Puskesmas Ramah Anak menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya.
Program Sekolah Ramah Anak dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, maupun tekanan psikologis.
Sedangkan Puskesmas Ramah Anak fokus pada layanan kesehatan yang memperhatikan kebutuhan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Sebagai bagian dari evaluasi sekaligus apresiasi, DP3A Kutim menggelar Lomba Sekolah dan Puskesmas Ramah Anak.
Rita menekankan, lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan juga sarana menilai efektivitas implementasi program di lapangan dan kesiapan menuju akreditasi nasional.
Selain menyiapkan fasilitas ramah anak, DP3A Kutim juga mendorong keterlibatan guru, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar nilai ramah anak dapat menjadi budaya bersama.
“Keberhasilan program ini bergantung pada kerja sama seluruh pihak. Dukungan dari masyarakat, sekolah, dan puskesmas sangat menentukan terciptanya lingkungan yang berpihak pada anak,” pungkas Rita. (ADV/MR)







