Nestlé Siap Masuk Kaltim, Tapi Hilirisasi Pisang Terganjal Masalah Air Bersih

ktmd - katamedia.co
Sabtu, 22 Nov 2025 04:45 WITA
Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasi.
Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasi.

KATAMEDIA, SAMARINDA – Harapan Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menjadi pusat industri olahan pisang kepok grecek semakin terbuka lebar setelah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia, Nestlé, menunjukkan ketertarikannya menanamkan investasi.
Namun peluang besar itu belum bisa terwujud sepenuhnya karena persoalan klasik yang hingga kini belum terpecahkan: ketersediaan air bersih berkualitas industri.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menyampaikan bahwa minat Nestlé bukan sekadar wacana. Perusahaan itu sudah melakukan kunjungan langsung pada 2023 untuk melihat potensi pengembangan pisang kepok yang digunakan sebagai bahan dasar makanan bayi.

Nestlé sudah datang, melakukan survei, dan mereka sangat berminat. Terutama karena pisang kepok Kaltim cocok untuk bahan tepung makanan bayi,” kata Kosasih.
Menurutnya, perusahaan bahkan telah meninjau lokasi kebun, titik sumber air, hingga calon tempat pendirian pabrik di Kutai Timur. Namun dari hasil feasibility study, ditemukan kendala besar: air yang digunakan untuk mencuci pisang memiliki kandungan Fe (besi), Al (aluminium), dan sulfur yang cukup tinggi.

Baca juga  Kaltim Perkuat Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Desa Melalui JOSPOL

Kondisi tersebut membuat air bersifat asam, sehingga turunan tepung pisang menjadi berwarna kemerahan dan dianggap tidak memenuhi standar industri makanan.

“Tepung itu harus putih bersih. Begitu dicuci pakai air asam, warnanya berubah merah atau kuning. Mutu langsung turun, dan bagi industri besar itu jadi tidak layak,” jelas Kosasih.

Masalah kualitas air inilah yang membuat Nestlé berhenti pada tahap kajian, karena proses pemurnian air akan meningkatkan biaya produksi secara signifikan. Perusahaan global seperti Nestlé, kata Kosasih, membutuhkan air baku minimal setara kualitas PDAM atau air pegunungan.

Baca juga  Gubernur Rudy Mas’ud Serahkan UKT Gratispol untuk 32.853 Mahasiswa di Kaltim

Di tengah persoalan ini, DPTPH Kaltim sebenarnya telah mengidentifikasi wilayah yang memiliki kualitas air ideal untuk industri, yakni Selangkau di Kutai Timur. Air di kawasan tersebut memiliki kandungan mineral yang stabil dan sudah digunakan oleh industri semen besar yang beroperasi di sana.

“Air di Selangkau itu bagus sekali. Cocok untuk industri makanan. Tapi lahan di sana sudah habis dimiliki masyarakat, sehingga pembebasan lahannya mahal,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah perlu menetapkan zona industri hortikultura yang memiliki akses air bersih. Tanpa langkah ini, investor sebesar apa pun akan ragu untuk masuk.

Kosasih menegaskan bahwa peluang investasi dari Nestlé masih terbuka, asalkan pemerintah daerah mengambil langkah strategis. Ia berharap Gubernur Kaltim memberikan arahan khusus agar persoalan air baku dan lahan dapat diselesaikan.

Baca juga  Pemkab Kutai Timur Paparkan Rancangan APBD 2026 dalam Paripurna DPRD

“Kuncinya gubernur. Kalau beliau mendorong dan menyiapkan lokasi dengan air bersih, Nestlé pasti mau lanjut,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menilai pembangunan pabrik tepung pisang bukan hanya untuk kepentingan investor, tetapi juga untuk menjamin kepastian pasar bagi petani. Selama ini, petani sering kesulitan menjual pisang saat panen raya.

“Kalau ada pabrik, petani tidak bingung lagi. Semua hasil panen pasti terserap,” tambahnya.

Dengan target perluasan lahan pisang hingga 12.000 hektare dan peluang investasi dari perusahaan global, Kaltim berpotensi menjadi pusat industri olahan pisang terbesar di kawasan timur Indonesia. Namun hal itu hanya akan menjadi kenyataan jika satu persoalan fundamental dapat diselesaikan: air bersih berkualitas industri (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).

Bagikan:
Berita Rekomendasi