Lahan Kaltim Cenderung Asam, Diversifikasi Hortikultura Kunci Ketahanan Pangan

ktmd - katamedia.co
Sabtu, 22 Nov 2025 05:33 WITA
Diversifikasi Holtikultura (foto oleh kementan).
Diversifikasi Holtikultura (foto oleh kementan).

KATAMEDIA, SAMARINDA – Kalimantan Timur diperkirakan memasuki era baru pengelolaan hortikultura dengan fokus utama pada optimalisasi lahan asam yang mendominasi sebagian besar wilayahnya.

Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) diproyeksikan mempercepat riset dan penerapan teknologi pengolahan lahan suboptimal, setelah berbagai temuan lapangan menunjukkan bahwa karakter tanah Kaltim membutuhkan pendekatan yang jauh lebih spesifik dibanding daerah lain di Indonesia.

Kepala Bidang Hortikultura DPTPH Kaltim, Kosasih, menekankan bahwa tantangan terbesar petani Kaltim saat ini bukan hanya soal akses pasar, melainkan kemampuan mengelola kondisi tanah yang cenderung masam—baik di wilayah pesisir maupun daerah yang berada pada dataran rendah.

Baca juga  Dispar Kaltim Perluas Proyeksi Jospol Mulai SDM Hingga Infrastruktur

“Kaltim ini daerah suboptimal. Kebanyakan tanahnya asam. Ini yang membedakan kita dari daerah seperti Jawa. Di sana mau tanam apa saja bisa bagus, sementara kita harus benar-benar sesuaikan komoditas dengan kondisi lahan,” jelasnya.

Karakter tanah asam inilah yang membuat pengembangan hortikultura di Kaltim tidak bisa mengandalkan pola seragam.

Kosasih menyebut setiap daerah memiliki kecocokan komoditas yang sangat spesifik. Durian dan jeruk nipis unggul di Kutai Barat, lay tumbuh baik di beberapa titik Kubar dan Kukar, sementara nanas yang dulu berjaya di Samboja kini bergeser ke Kutai Timur karena perubahan kualitas tanah akibat aktivitas tambang.

Baca juga  DPK Kaltim Percepat 14 OPD Penuhi Formasi Arsiparis, Hindari Pengelolaan Arsip “Nyambi”

“Nanas itu sensitif. Kalau tanah tidak cocok, apalagi asam ekstrem, hasilnya bisa asam dan ukuran tidak stabil. Makanya sekarang petani banyak pindah ke Kutai Timur, terutama kawasan Hima Lestari yang tanahnya masih bisa diolah,” katanya.

Fenomena di Long Kali juga menjadi bukti bahwa adaptasi terhadap lahan asam bisa menghasilkan terobosan baru. Di wilayah yang dikenal memiliki tanah masam tersebut, petani justru berhasil membudidayakan anggur hingga berbuah lebat—sesuatu yang dulu dianggap mustahil.

“Ditanam di Samarinda tidak berbuah, tapi di Long Kali bisa. Artinya, meski tanah asam, ada kecocokan iklim dan struktur tanah yang pas,” ujar Kosasih.

Baca juga  Pemprov Kaltim Pacu Perubahan Sosial dan Ekonomi Dengan Realisasi Internet Gratis

Ke depan, Pemprov Kaltim diproyeksikan mengembangkan strategi jangka panjang berupa pemetaan pH tanah per kecamatan, teknologi pengapuran skala luas, penggunaan pupuk organik fermentasi untuk menetralkan tanah, hingga membangun teaching farm khusus lahan asam.

Melalui pendekatan ilmiah ini, pemerintah ingin memastikan bahwa komoditas hortikultura tidak hanya bertahan, tetapi berkembang. Kosasih juga mengingatkan risiko ekologis apabila Kaltim terus dikuasai monokultur sawit, terutama pada lahan yang sudah asam.

“Kalau sawit semua, akar pohonnya tidak kuat menahan air. Makanya banjir sering terjadi. Kita perlu pohon buah, perlu tanaman dengan akar tunjang agar air bisa terserap,” pungkasnya (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).

Bagikan:
Berita Rekomendasi