Edit Content
Home › ,

Disdikbud Kutim Hadirkan Pameran Jejak Dakwah Islam di Kalimantan Timur

ktmd - katamedia.co
Senin, 17 Nov 2025 05:21 WITA

KATAMEDIA- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) membuka Pameran Miniatur Sejarah Nabi dan Rasul di pelataran Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta, Minggu, 16 November 2025.

Kegiatan ini menjadi sarana edukasi publik untuk menelusuri kembali jejak penyebaran Islam di Kutai Timur dan Kalimantan Timur secara keseluruhan.

Pameran tersebut dibuka langsung oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman. Dalam kegiatan ini, pengunjung dapat melihat miniatur perjalanan Nabi Muhammad SAW serta berbagai panel sejarah yang menggambarkan jalur perkembangan Islam dari wilayah pesisir, sepanjang aliran sungai, hingga kawasan pedalaman Kutim.

Materi yang ditampilkan menunjukkan bahwa Islam telah hadir di Kalimantan Timur sejak abad ke-7 hingga abad ke-10 Masehi melalui aktivitas perdagangan internasional. Pedagang dari Arab, Persia, Gujarat, dan Tiongkok membawa ajaran Islam bersamaan dengan barang dagangan yang mereka perjualbelikan di pesisir Kalimantan.

Baca juga  Dishub Kutim Terapkan Pemantauan Real Time di Delapan Titik Persimpangan

Pengaruh Islam kemudian semakin kuat pada abad ke-16 setelah berdirinya Kesultanan Banjar yang menjadi pusat penyebaran Islam di Kalimantan bagian selatan. Dari wilayah tersebut, para ulama dan saudagar bergerak melalui Laut Jawa dan Selat Makassar hingga menyebarkan ajaran Islam ke Paser, Penajam, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur.

Dalam konteks Kutim, penyebaran Islam berlangsung melalui tiga jalur utama. Jalur pesisir timur yang menghubungkan Banjar dengan Sangatta, Bengalon, dan Sangkuliang berperan sebagai lintasan maritim penting.

Sementara jalur Sungai Mahakam membawa pengaruh Islam dari Kutai Lama dan Tenggarong menuju Muara Ancalong, Busang, dan Muara Wahau. Sementara jalur darat dari Kutai Kartanegara memperkuat perkembangan Islam di daerah pedalaman Kutim.

Baca juga  Subandi Harap Longsor Tak Ganggu Struktur Terowongan Rp300 Miliar

Jejak Islam di Kutim dapat dilihat dari keberadaan sejumlah masjid tua seperti Masjid Jami As-Salam Bengalon, masjid bersejarah di Muara Wahau, Masjid Ar-Rahmah Sangkulirang, serta Masjid At-Taubah di Sangatta Selatan. Selain itu, perkembangan komunitas Muslim di Sangatta juga tercatat meningkat sejak dekade 1970-an.

Bupati Ardiansyah menilai pameran ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pengetahuan masyarakat mengenai sejarah Islam di daerah. Ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan pemahaman lintas generasi.

Baca juga  Petani Kaltim Keluhkan Kelangkaan Pupuk, DPRD Soroti Distribusi

“Kami berharap pameran ini membuat masyarakat lebih mengenal perjalanan Islam di Kutai Timur, mulai dari jalurnya hingga tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya,” kata Ardiansyah.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan seperti ini penting untuk menjaga warisan sejarah.

“Pemahaman sejarah adalah bagian dari memperkuat identitas daerah. Dengan mengenal masa lalu, kita dapat menjaga nilai budaya dan religius yang telah ada,” ujarnya menambahkan.

Di akhir kegiatan, Disdikbud Kutim menegaskan bahwa pameran akan terus dibuka bagi pelajar maupun masyarakat umum agar semakin banyak warga yang memahami sejarah masuknya Islam ke Kutim.

Upaya ini sekaligus menjadi langkah memperkuat pelestarian nilai-nilai Islam dan sejarah lokal di tengah perkembangan zaman. (ADV/MR)

Bagikan:
Berita Rekomendasi