KATAMEDIA, SAMARINDA – Kebahagiaan terpancar lembut dari wajah Burhansyah, marbot Masjid Al-Mukarram yang akrab disapa Ahmad Bukhary, saat mengenang perjalanan spiritual yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan suara pelan penuh haru, ia menceritakan kembali momen ketika mengetahui dirinya terpilih sebagai peserta Umrah Gratis dalam program unggulan GratisPol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Bukhary, yang hidup sederhana dan bertahun-tahun mengabdikan diri merawat masjid, mengaku tak pernah membayangkan namanya akan menjadi salah satu yang diberangkatkan ke Tanah Suci. Baginya, umrah adalah impian jauh yang secara logika sulit terjangkau.
“Masya Allah Pak, waktu itu badan saya langsung gemetar. Untuk orang seperti kami, pergi ke sana itu tidak pernah terbayangkan. Kalau pakai logika, rasanya tidak mungkin,” ujarnya, Jum’at (14/11/2025).
Awalnya, ia hanya mendengar kabar program tersebut dari obrolan sesama marbot. Baginya, itu terdengar seperti harapan yang mungkin saja tidak benar. Namun keraguannya mulai luntur ketika ia membaca slogan program unggulan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di surat kabar, yang menyebut adanya kuota umrah bagi marbot. Saat itu, secercah keyakinan mulai tumbuh—meski tetap ia jaga agar tidak menjadi harapan yang berlebihan.
Beberapa hari kemudian, pengurus masjid meminta data diri, disusul permintaan KTP dan KK dari kelurahan. “Katanya, siapa tahu saya dapat kesempatan ikut program umrah gratis bagi marbot Kelurahan Jawa,” jelasnya.
Dan benar saja, kabar besar itu datang. Surat Keputusan Gubernur terkait keberangkatan marbot telah terbit, dan nama Bukhary tercantum di dalamnya.
“Benar-benar merinding saya, Pak. Rasanya bahagia sekal,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pada 10 September 2025, ia resmi berangkat bersama hampir 100 marbot dari Samarinda. Ia tak perlu memikirkan besar biaya perjalanan, karena semuanya telah ditanggung pemerintah.
“Kami hanya mengeluarkan biaya untuk suntik dan menjahit baju, itu saja. Dari berangkat di Samarinda sampai pulang lagi, semuanya ditanggung gratis,” tuturnya.
Sepuluh hari ia jalani dengan penuh syukur dan kekhusyukan. Program tersebut menanggung seluruh kebutuhan perjalanan hingga akomodasi, memberikan pengalaman ibadah yang baginya tak ternilai. Setelah kembali ke rumah pada 20 September dini hari, ia merasa hidupnya telah berubah. Sebagai marbot yang mengabdi selama 11 tahun—membersihkan masjid, menyiapkan perlengkapan ibadah, menjaga kenyamanan jamaah—baru di tahun itu ia merasakan impian besarnya terwujud.
“Baru pertama kali saya umrah, Pak. Sama sekali tak pernah membayangkan bisa pergi ke sana,” katanya lirih.
Bukhary tak henti mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah membuka jalan baginya menginjakkan kaki di Tanah Suci.
“Rasa terima kasih kami tak terhingga untuk Bapak Gubernur Rudy Mas’ud, Wakil Gubernur, Bapak Seno Aji, serta Pemerintah Kalimantan Timur. Semoga mereka selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam setiap urusannya. Program ini sangat berarti bagi kami para marbot,” serunya tulus.
Ia berharap program ini terus berjalan di tahun-tahun mendatang, karena menurutnya para marbot bekerja dalam kesunyian dan jarang mendapatkan perhatian publik. Program umrah gratis ini bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi juga bentuk penghargaan atas dedikasi mereka merawat rumah-rumah Allah.
“Pak, program ini sungguh luar biasa. Tidak ada lagi kata yang bisa saya ucapkan,” pungkasnya.
Dengan senyum yang seakan belum percaya sepenuhnya, Bukhary menutup kisah itu, seorang marbot sederhana dari Samarinda yang untuk pertama kalinya bisa memandang Ka’bah berkat program yang benar-benar hadir bagi mereka yang selama ini bekerja tanpa sorotan.








