KATAMEDIA, SAMARINDA – Semangat antusiasme mahasiswa baru yang mendapatkan beasiswa GratisPol pendidikan, nama Maelisa Aliftia Dewi mencuri perhatian karena cita-cita besarnya.
Mahasiswi semester pertama Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Aji Muhammad Idris (S.A.M.I.) Samarinda, bermimpi menjadi pengusaha butik pakaian setelah menyelesaikan pendidikannya.
Melisa sapaan akrabnya, berasal dari Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Ia kini tinggal di Samarinda untuk berkuliah.
Meskipun baru berusia 18 tahun, ia telah memiliki arah hidup yang jelas.
“Saya ingin punya butik baju sendiri. Mulai dari desain, branding sampai pemasarannya. Jadi saya harus belajar dari sekarang,” ungkapnya.
Keinginannya menjadi pengusaha butik tidak datang tiba-tiba. Sejak kecil, Melisa memang menyukai dunia fashion, terutama desain busana.
Ketertarikannya kian kuat ketika ia mulai memahami bahwa sektor tersebut memiliki peluang bisnis yang besar jika dikelola dengan serius, terutama dengan dukungan ekosistem digital yang berkembang pesat.
Beasiswa Gratispol menjadi pintu penting bagi Melisa untuk memulai jalur akademiknya tanpa hambatan biaya. UKT yang semula mencapai Rp3,8 juta kini sepenuhnya ditanggung pemerintah.
“Orang tua saya kaget dan sangat senang. Beban biaya kuliah hilang, jadi saya bisa fokus mengembangkan diri,” katanya.
Meski mendapat dukungan finansial penuh, Melia menyebut bahwa mimpi membangun butik tidak cukup hanya dengan kuliah.
Ia berharap pemerintah ke depan dapat memperbanyak pelatihan wirausaha, workshop fashion, hingga program magang gratis bagi mahasiswa penerima beasiswa.
Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan sangat penting untuk membangun bisnis yang realistis.
“Kalau ada pelatihan atau magang gratis di bidang fashion atau bisnis, itu sangat membantu. Saya ingin belajar dari orang yang sudah berpengalaman, biar nanti enggak sekadar punya cita-cita, tapi punya kemampuan nyata,” ujarnya.
Melia juga menilai bahwa batas usia beasiswa Gratispol untuk jenjang S1 yang maksimal 25 tahun sebaiknya dievaluasi.
Banyak calon mahasiswa yang menunda kuliah satu hingga dua tahun, sementara sebagian lainnya baru siap melanjutkan pendidikan ketika usianya sudah lewat batas tersebut.
“Menurut saya batas usia perlu diperpanjang. Banyak orang yang ingin kuliah tapi kesiapan finansialnya baru cukup setelah beberapa tahun,” jelasnya.
Di kampus, proses belajar mengajar berjalan lancar dan ia mulai menyesuaikan diri. Sebagai anak bungsu, Melia mengaku keluarganya menjadi motivasi utama untuk mewujudkan mimpinya.
Di sela-sela kuliah, ia gemar membaca buku pengembangan diri sebagai cara memperkuat visi dan kepercayaan diri.
Ke depan, Melia menargetkan setelah lulus S1, ia sudah memiliki konsep butik yang matang, baik dari sisi produk maupun strategi pemasaran.
Ia berharap pemerintah maupun pihak kampus dapat memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa untuk mengakses program pengembangan kewirausahaan.
“Semoga semakin banyak fasilitas untuk mahasiswa yang ingin berbisnis. Saya ingin membuktikan bahwa penerima beasiswa bukan hanya menempuh pendidikan, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja,” tegasnya (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).







