Edit Content

Kaltim Dorong Desa Wisata Jadi Pusat Tumbuhnya Generasi Emas, Dialog Digelar di Kapal Susur Mahakam

ktmd - katamedia.co
Minggu, 7 Des 2025 11:18 WITA
Suasana Bincang-Bincang Pariwisata di Kapal Susur Mahakam
Suasana Bincang-Bincang Pariwisata di Kapal Susur Mahakam

KATAMEDIA, SAMARINDA – Upaya Kalimantan Timur membangun pariwisata berkelanjutan bergerak ke arah yang lebih terstruktur. Melalui kegiatan Bincang-Bincang Pariwisata yang digelar di atas kapal wisata susur Sungai Mahakam.

Pemprov Kaltim menegaskan bahwa desa wisata akan menjadi pusat pembentukan generasi emas, sekaligus tulang punggung pertumbuhan ekonomi kreatif di masa mendatang.

Kapal city tour yang menjadi lokasi diskusi berangkat dari Samarinda pukul 09.30 WITA menuju Tenggarong. Perjalanan sepanjang Sungai Mahakam itu memakan waktu sekitar tiga jam sebelum tiba di Dermaga Titik Nol Kukar, tepat di depan Museum Mulawarman.

Setelah sesi dialog, kapal kembali bergerak menuju Samarinda pukul 14.30 dan dijadwalkan tiba sekitar pukul 16.30.

Sepanjang perjalanan, peserta diajak melihat langsung dinamika sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Mahakam.

Diskusi tak hanya membahas potensi pariwisata, tetapi juga isu ekologis—terutama menyusutnya populasi pesut Mahakam akibat pesatnya aktivitas manusia di sekitar habitatnya. Para pengambil kebijakan menilai bahwa edukasi ekologi harus menjadi bagian dari paket wisata sungai agar publik semakin sadar pentingnya konservasi.

Baca juga  Perlindungan Guru Lewat LKBH PGRI Kaltim Diperkuat

Sekretaris sekaligus Plt Bidang Pengembangan Pariwisata Dispar Kaltim, Baihaqi, menjelaskan bahwa kapal city tour baru ini merupakan salah satu unggulan dari 66 kapal wisata Mahakam yang terus dikembangkan.

“Ini langkah kita untuk memfasilitasi minat masyarakat terhadap wisata susur sungai. Juga ada alternatif trip yang bisa dimanfaatkan untuk rapat, pertemuan, atau meeting dengan durasi panjang,” ungkapnya.

Kapal tersebut beroperasi dengan kecepatan 6–8 knot, sehingga perjalanan terasa stabil dan nyaman.

Dalam dialog tersebut, Dispar Kaltim memaparkan arah pembangunan desa wisata yang kini menjadi prioritas. Hingga 2025, Kaltim memiliki 68 desa wisata, termasuk satu desa baru yang ditetapkan pada 2024 di kawasan Tritip Pringgonan.

Selain itu, terdapat 175 PokDarwis yang terus dibina agar desa rintisan bisa berkembang menjadi desa wisata maju dan mandiri.

Baca juga  Darlis Desak Pemprov Jadi Payung Hukum Pembatasan TKA di Kaltim

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn, menegaskan bahwa desa wisata akan menjadi “entri poin” dalam membangun generasi emas melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kita ingin desa wisata menjadi ruang yang inklusif, bisa diakses siapa saja, dan menjadi pusat pembelajaran masyarakat. Ini juga bagian dari kebijakan Jospol Bapak Gubernur yang telah masuk dalam RPJMD,” jelasnya.

Ririn menyebut bahwa langkah penguatan desa wisata kini dipertegas melalui Pergub 35/2025 tentang Pengembangan Desa Wisata, yang mulai diberlakukan pada 25 Juli.

Regulasi tersebut mengatur alur pengelolaan, peningkatan kualitas SDM, mekanisme kolaborasi, hingga peluang pendanaan dari pemerintah dan sektor swasta.

Ada sejumlah desa yang sedang diproyeksikan menjadi ikon pariwisata baru di masa mendatang, seperti Pelahing di Kubar, Bontang Kuala, Malahing, Derawan di Berau, dan beberapa titik strategis di Balikpapan.

Seluruhnya dinilai memiliki potensi kuat untuk menembus kompetisi desa wisata nasional.
Dari sisi pendanaan, Dispar Kaltim telah menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Bank Indonesia, Bankaltimtara, PLN, hingga perusahaan tambang dan BUMN seperti Bayan, Indominco, Ideco, dan sejumlah mitra lain.

Baca juga  Nestlé Siap Masuk Kaltim, Tapi Hilirisasi Pisang Terganjal Masalah Air Bersih

Kolaborasi pembiayaan ini juga sudah disampaikan ke Gubernur dan Sekda agar dapat ditindaklanjuti sebagai bagian dari percepatan pengembangan desa wisata.

Namun Ririn mengakui, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Penyelarasan kepentingan antarlembaga kerap memerlukan proses panjang, ditambah dengan pemotongan TKD yang mempengaruhi struktur anggaran pemerintah daerah.

Meski demikian, ia optimistis desa wisata dapat kembali menjadi “soko guru” ekonomi, sebagaimana terjadi saat pandemi COVID-19 lalu ketika desa menjadi benteng ekonomi masyarakat.

Dengan penguatan lintas sektor—mulai dari Dinas Perikanan, Perindakop, Dinas Pemerintahan Desa, hingga BUMDes—Pemprov Kaltim berharap desa wisata ke depan dapat tumbuh lebih mandiri, inovatif, dan mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat lokal (Fr/ADV/Diskominfo Kaltim).

Bagikan:
Berita Rekomendasi