KATAMEDIA, SAMARINDA – Persoalan HIV di Samarinda kembali menjadi perhatian setelah jumlah kasus yang tercatat mencapai sekitar 4.000 orang.
Di tengah kebutuhan pengobatan jangka panjang dan tantangan pemantauan pasien, anggota komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi menilai upaya pencegahan perlu diperkuat melalui kerja bersama pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga tokoh masyarakat.
Dirinya mengungkapkan laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL) sebagai salah satu kelompok yang perlu menjadi perhatian dalam strategi pencegahan, sembari menekankan pentingnya pendekatan kesehatan masyarakat yang berbasis data.
“Dari sejumlah hasil screening yang dilakukan di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Timur (Kaltim), angka penularan cukup banyak ditemukan pada kelompok laki-laki yang berhubungan dengan sesama laki-laki. Ini menjadi perhatian serius bagi kita semua,” Ungkap Ismail sapaan karibnya. Senin (10/8/2026).
Lebih lanjut, Ismail menilai penanganan HIV tidak cukup hanya mengandalkan layanan medis. Edukasi mengenai pencegahan, pemeriksaan dini, perilaku berisiko, serta pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Samarinda yang disampaikannya, dari sekitar 4.000 kasus yang tercatat, baru sekitar separuh pasien yang rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV), sedangkan sebagian lainnya belum terpantau menjalani pengobatan secara konsisten.
“Pengobatan HIV membutuhkan keberlanjutan karena ARV harus dikonsumsi sepanjang hidup pasien. Saat ini sebagian besar masih didukung melalui bantuan Global Fund,” Jelas Ismail.
Meski pencegahan dan edukasi perlu diperkuat, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengingatkan agar penanganan HIV tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
“Yang terpenting adalah bagaimana mereka mendapatkan akses pengobatan dan pendampingan yang baik. Jangan sampai ada diskriminasi karena itu justru membuat mereka enggan berobat,” Tutup Ismail. (ADV)









