Edit Content
Home › ,

Disdikbud Kutim Siapkan Kurikulum Pendamping untuk Sejarah Islam

ktmd - katamedia.co
Minggu, 23 Nov 2025 09:54 WITA

KATAMEDIA, Sangatta – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur mulai merancang pembaruan strategi pembelajaran sejarah Islam agar lebih sesuai dengan pola belajar generasi muda saat ini.

Rencana itu disampaikan Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, dalam penutupan Pameran Sejarah Islam di Masjid Agung Al-Faruq pada Sabtu, 22 November 2025.

Menurut Mulyono, pameran tersebut memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap sejarah Islam masih tinggi, namun penyampaian materi di sekolah perlu disesuaikan agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Ia mengatakan pengetahuan tentang masuknya Islam ke Kutai Timur belum menjadi bahan diskusi luas di kalangan pelajar, padahal peristiwa itu merupakan bagian penting dari perjalanan budaya daerah.

Baca juga  PUPR Kaltim Hadapi Pemotongan Anggaran Turun di Bawah Rp1 Triliun

“Banyak pelajar yang sebenarnya ingin tahu, tetapi materi sejarah kita belum dikemas secara menyeluruh. Karena itu, pameran ini menjadi pengingat bahwa ada ruang yang harus kami isi,” ujar Mulyono.

Ia menegaskan bahwa penyusunan ulang model pembelajaran menjadi langkah awal untuk memperkuat pemahaman sejarah lokal.

Untuk menjangkau lebih banyak pelajar, Disdikbud menyiapkan bahan ajar baru berbasis visual, seperti buku kartun dan animasi yang memaparkan perjalanan sejarah Islam, mulai dari fase awal munculnya dakwah hingga proses penyebarannya ke wilayah Kutai Timur.

Mulyono menyebut pendekatan visual bukan hanya soal memodernkan pembelajaran, tetapi strategi agar pelajar dapat mengikuti alur sejarah dengan lebih mudah.

Baca juga  Sumur Bor Tenaga Surya di Sumber Sari, Solusi Inovatif Atasi Kekeringan

“Kami ingin anak-anak tidak sekadar menghafal, tetapi mampu membayangkan bagaimana sejarah itu bergerak dari masa ke masa,” katanya.

Di sisi lain, Disdikbud juga menata ulang kegiatan seni budaya Islam yang selama ini menjadi bagian dari agenda tahunan.

Tahun mendatang, jenis lomba akan diperluas dengan memasukkan kategori baru, termasuk untuk peserta laki-laki agar keterlibatan mereka tidak tertinggal. Lomba kasidah, habsyi, dan dongeng keagamaan direncanakan mendapatkan porsi lebih besar untuk memperkuat minat siswa pada seni tradisi Islam.

“Kami ingin kesempatan mengikuti lomba lebih terbuka bagi semua. Selama ini pesertanya lebih banyak dari kalangan perempuan, dan kami ingin itu berubah,” ujar Mulyono.

Baca juga  Dugaan Korupsi PT PTB Jadi Sorotan DPRD, Husni Tegaskan Perlindungan Masyarakat Pesisir

Meski belum akan ditetapkan sebagai mata pelajaran muatan lokal, Mulyono menegaskan bahwa materi sejarah Islam tetap akan hadir di lingkungan sekolah.

Penyampaian materi itu akan disisipkan melalui kegiatan pendamping, mulai dari proyek tematik hingga program ekstrakurikuler yang memberi ruang eksplorasi lebih luas bagi siswa.

Langkah ini, menurut Mulyono, bukan hanya upaya melestarikan catatan masa lalu, tetapi cara menempatkan sejarah sebagai bagian dari identitas dan cara pandang generasi muda terhadap daerah mereka.

Ia berharap pendekatan baru itu dapat mendorong pelajar melihat sejarah sebagai pengetahuan yang hidup, bukan sekadar arsip. (ADV/MR)

Bagikan:
Berita Rekomendasi