Home › ,

Festival Pesona Budaya Kutim 2025 Ditutup, Bupati Tegaskan Komitmen Pelestarian Warisan Lokal

ktmd - katamedia.co
Senin, 24 Nov 2025 08:06 WITA

KATAMEDIA, Sangatta- Gelaran Festival Pesona Budaya 2025 di Kutai Timur berakhir pada Minggu malam, menandai penutupan rangkaian kegiatan tiga hari yang dipusatkan di Alun-alun Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

Acara yang sejak pembukaannya menarik perhatian warga ini menjadi salah satu momentum pemerintah daerah untuk meneguhkan kembali arah pelestarian budaya di wilayah tersebut.

Festival yang memadukan pertunjukan seni, pameran budaya, hingga ruang edukasi itu digelar sebagai panggung ekspresi sekaligus pengingat atas kekayaan tradisi daerah. Pluralitas budaya Kutai Timur, dari pesisir hingga pedalaman, ditampilkan melalui berbagai atraksi yang menjadi magnet utama pengunjung.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menekankan bahwa penyelenggaraan festival bukan sekadar agenda seremonial, tetapi medium untuk memastikan ruang kebudayaan tetap hidup.

Baca juga  Dispar Kukar Inisiasi Panggung Kreatif untuk Penggiat Seni

“Pemerintah daerah ingin memberi wadah yang layak bagi para pelaku seni untuk menampilkan khazanah budaya yang kita miliki,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini adalah langkah strategis untuk menjaga kesinambungan tradisi di tengah perubahan zaman.

Ardiansyah juga menyinggung perlunya perluasan program pelestarian melalui pendekatan pendidikan dan riset. Upaya tersebut, menurutnya, akan diarahkan pada pengenalan sejarah lokal kepada masyarakat, termasuk pendokumentasian situs-situs budaya yang selama ini belum tersentuh kajian mendalam.

“Kami bertekad memperluas kegiatan pelestarian melalui jalur edukasi dan penelitian agar generasi muda semakin mengenal akar budayanya,” kata dia.

Baca juga  Dugaan Kasus COVID di RS AWS Diperiksa Ulang, Baba Sebut Jangan Asal Klaim

Salah satu kesenian yang menjadi sorotan dalam festival tahun ini adalah Tarsul, tradisi lisan klasik yang berasal dari masyarakat Kutai. Bupati menyebut kesenian tersebut sebagai penanda bahwa jejak kehidupan masyarakat Nusantara telah berkembang sejak ratusan tahun lalu.

Ia menuturkan, “Warisan seperti Tarsul adalah bukti perjalanan panjang leluhur kita. Potensi seni dan budaya ini perlu terus digali dan dirawat.”

Senada dengan itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menyampaikan bahwa festival tahun ini diikuti para pelaku seni dari berbagai komunitas lokal. Mereka menampilkan kekhasan budaya masing-masing, mulai dari seni pesisir, tradisi pedalaman, hingga representasi keberagaman Nusantara yang hidup di Kutai Timur.

Baca juga  Produksi Beras Terbatas, Pemkab Kutim Susun Strategi Kemandirian Pangan

“Kami mencoba menghadirkan ruang bagi semua pelaku budaya agar kreativitas mereka dapat dilihat masyarakat luas,” ujarnya.

Dengan berakhirnya Festival Pesona Budaya 2025, pemerintah daerah menilai kegiatan tersebut telah memenuhi harapannya sebagai medium kolaborasi dan promosi budaya.

Penyelenggara menyebut akan memperkuat format festival tahun depan agar mampu menjangkau lebih banyak partisipasi dan pelibatan masyarakat. Festival ini dinilai bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi fondasi untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya Kutai Timur. (ADV/MR)

Bagikan:
Berita Rekomendasi