Edit Content
Home › ,

Kutim Uji Teknologi Padi Apung untuk Atasi Lahan Rawa dan Banjir

ktmd - katamedia.co
Rabu, 26 Nov 2025 06:09 WITA

KATAMEDIA, Sangatta- Pengenalan teknologi budidaya padi di lahan tergenang mulai mengemuka di Kutai Timur. Pemerintah daerah menilai inovasi ini sebagai langkah penting untuk memperluas ruang tanam di kawasan yang selama ini kerap terhambat persoalan rawa dan banjir musiman.

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur menyatakan teknologi yang dikenal sebagai padi apung itu menjadi salah satu opsi adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim dan struktur lahan yang tidak selalu mendukung pola tanam konvensional. Kebijakan ini mulai diperkenalkan tahun ini sebagai bagian dari agenda penguatan ketahanan pangan daerah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, mengatakan teknik tersebut merupakan hasil introduksi dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.

Baca juga  Desa Loh Sumber Bersiap Hadapi Pemindahan IKN dengan Program Pengembangan SDM

Ia menyebut konsep padi apung memungkinkan kegiatan budidaya tetap berlangsung di kawasan yang biasanya sulit ditanami akibat tergenang.

“Pada dasarnya metode ini dirancang agar padi bisa tumbuh di area yang selalu berair, termasuk di lokasi yang sering kebanjiran,” tuturnya dalam perbincangan di Sangatta, Selasa, 25 November 2025.

Tidak seperti sawah pada umumnya, padi dalam sistem ini ditanam di atas media yang dirancang mengapung di permukaan air.

Struktur tersebut menjaga tanaman tetap stabil saat terjadi peningkatan debit air, sehingga petani tidak perlu menunggu perubahan musim atau penyusutan genangan untuk memulai masa tanam.

Baca juga  Ekti Imanuel Soroti Hambatan Birokrasi dalam Bantuan Pupuk ke Mahulu

Mekanisme ini dinilai mampu membuka peluang bagi pemanfaatan lahan-lahan yang selama ini dianggap tidak produktif.
DTPHP Kutim telah melakukan uji coba terbatas di Kecamatan Bengalon.

Menurut Dessy, skala percobaan masih relatif kecil karena pemerintah daerah ingin memastikan efektivitas teknologi sebelum diperluas. Ia menjelaskan, tahap awal ini dimaksudkan untuk memahami karakter lingkungan setempat serta menilai seberapa baik tanaman mampu beradaptasi.

“Kami masih memantau bagaimana respons tanaman di lahan tersebut. Karena baru dikenalkan, kami ingin prosesnya bertahap,” katanya.

Baca juga  Percepat Penanganan ATS, Bupati Minta Pekerjaan Disdikbud Lebih Terukur

Sejalan dengan itu, pemerintah daerah sedang meneliti varietas yang paling sesuai untuk diterapkan pada sistem apung. Pemilihan varietas dianggap penting untuk menjamin hasil panen tetap stabil meski kondisi lahan tidak ideal.

Rencana pengembangannya akan menyasar kecamatan lain yang memiliki karakter geografis serupa, terutama lokasi dengan frekuensi banjir musiman yang tinggi.

Jika teknologi ini terbukti berhasil, pemerintah berharap padi apung menjadi salah satu instrumen strategis untuk meningkatkan produktivitas pangan sekaligus memperluas cakupan lahan tanam. Upaya ini juga diperkirakan dapat mengurangi potensi gagal panen akibat genangan air yang sulit diprediksi setiap tahun. (ADV/MR)

Bagikan:
Berita Rekomendasi