
KATAMEDIA, Sangatta- Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menempatkan pengembangan padi gogo sebagai salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan, terutama di wilayah pedalaman yang sebagian besar bertumpu pada lahan kering.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki pola produksi pangan agar tidak bergantung sepenuhnya pada sistem irigasi.
Inisiatif tersebut dikerjakan melalui Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, yang sejak dua tahun terakhir memetakan daerah-daerah yang mengandalkan padi gunung sebagai sumber makanan pokok.
Pemerintah menilai bahwa keberadaan padi gogo dapat memberi peluang baru bagi petani di kawasan nonirigasi untuk menjaga produktivitas sepanjang musim.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, mengatakan padi gunung masih menjadi varietas utama yang dibudidayakan masyarakat di Kecamatan Busang, Long Mesangat, dan Muara Bengkal. Namun hasil panennya belum sebanding dengan kebutuhan pangan wilayah.
“Padi gunung ini memang punya keistimewaan pada rasanya, tetapi kapasitas panennya masih sangat rendah,” ujar Dessy ketika ditemui di Sangatta, Selasa, 25 November 2025.
Produktivitas padi gunung yang rata-rata hanya mencapai satu ton per hektare mendorong pemerintah daerah mengambil langkah pemuliaan untuk meningkatkan kualitas benih lokal.
Ia menegaskan proses tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan ciri rasa yang telah menjadi identitas masyarakat setempat.
Saat ini, DTPHP tengah melakukan pemuliaan terhadap empat varietas padi gunung. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan benih unggul yang lebih produktif tanpa menghilangkan karakter asli yang sudah diwariskan turun-temurun.
Selain memperkuat varietas lokal, pemerintah daerah juga memperluas penanaman padi gogo sebagai alternatif utama di lahan kering. Varietas ini dinilai lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang minim pasokan air, sehingga cocok untuk wilayah pedalaman Kutim.
Dessy menjelaskan bahwa pemerintah memberikan dukungan berupa penyediaan benih, pendampingan teknis, hingga monitoring berkala.
“Kami dorong penanaman padi gogo terutama di daerah yang selama ini mengandalkan padi gunung, supaya petani tetap bisa memaksimalkan lahan yang tidak memiliki irigasi,” katanya.
Penyuluhan kepada kelompok tani menjadi bagian penting dari program ini. Pemerintah memastikan setiap kelompok mendapatkan pelatihan mengenai teknik budidaya yang tepat, mulai dari pengolahan lahan hingga pengendalian hama.
Sejumlah kecamatan juga menunjukkan ketertarikan yang semakin besar karena padi gogo memungkinkan percepatan pola tanam sekaligus meningkatkan potensi panen dalam setahun.
Dukungan pemerintah pusat melalui alokasi APBN turut memperkuat langkah ini. Bantuan tersebut memungkinkan percepatan distribusi benih unggul dan pengembangan varietas yang lebih adaptif.
Dessy menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian varietas lokal dan peningkatan produksi.
“Kami ingin kualitas pangan lokal tetap terjaga, tetapi petani juga harus memiliki opsi yang bisa memberikan hasil lebih baik,” ucapnya.
Ia menilai keberhasilan program ini ditentukan oleh kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan petani. Sinergi tersebut akan menentukan seberapa jauh Kutim mampu mengangkat kapasitas produksi pangan di wilayah pedalaman.
“Kami berharap dukungan dari Kementerian Pertanian terus berlanjut agar petani di Kutim bisa meningkatkan hasil panen,” tuturnya. (ADV/MR)







