
KATAMEDIA, Sangatta- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) menyebutkan bahwa upaya penanganan anak tidak sekolah (ATS) melalui Proyek Perubahan Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) mulai menunjukkan hasil signifikan.
Program yang diinisiasi Disdikbud Kutim itu dinilai mampu menekan angka ATS secara terstruktur dan terukur, sejalan dengan visi Kutim Hebat 2045 serta target Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4 tentang pendidikan berkualitas.
Mulyono, Kepala Disdikbud Kutim, menjelaskan bahwa SITISEK dirancang sebagai pendekatan holistik, inklusif, dan berkelanjutan untuk menghadapi krisis ATS yang selama ini menjadi tantangan besar sektor pendidikan daerah.
“Proyek Perubahan SITISEK merupakan inisiatif strategis untuk mempercepat penanganan ATS dengan langkah-langkah yang lebih sistematis dan masif,” ujar Mulyono, Jumat, 21/11/2025.
Berdasarkan data Pusdatin Kemendikbudristek per Maret 2025, jumlah ATS di Kutai Timur tercatat sebanyak 13.411 anak. Setelah tahap awal implementasi SITISEK, angka itu menurun menjadi 10.539 anak. Penurunan sebesar 2.872 anak ini disebut sebagai capaian awal yang menggembirakan.
Meski begitu, Mulyono mengungkapkan bahwa masih terdapat 4.982 data ATS yang tidak ditemukan di lapangan. Data tersebut belum dapat dihapus hingga proses verifikasi dan pemadanan dengan Disdukcapil selesai, sebelum kemudian diusulkan penghapusannya ke Pusdatin.
Sebagai langkah penguatan, Disdikbud Kutim bersama Universitas Negeri Yogyakarta menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) penanganan ATS. Dokumen ini akan menjadi pedoman lintas sektor dalam melaksanakan intervensi pendidikan secara lebih terkoordinasi.
“Rencana Aksi Daerah ini akan ditindaklanjuti oleh seluruh stakeholder secara terstruktur, sistematis, dan massif sesuai tugas pokok dan fungsinya. Dokumen tersebut hari ini kami serahkan kepada para pemangku kepentingan untuk segera diimplementasikan,” kata Mulyono.
Melalui SITISEK dan RAD, Disdikbud Kutim menargetkan penanganan ATS dapat berjalan semakin efektif sehingga tidak ada anak di Kutai Timur yang terhalang mengenyam pendidikan. (ADV/MR)








