Jari Diamputasi, Siswa SMP Ini Diduga Korban Bullying

Jari Diamputasi, Siswa SMP Ini Diduga Korban Bullying

0
BERBAGI

KATAMEDIA– Jakarta, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 kota Malang, Jawa Timur, berinisial MS harus diamputasi. jari tengah MS terluka parah dan harus diamputasi karena diduga dirundung atau di-bully oleh teman sekolahnya.

Taufik, paman MS mengatakan Dokter memutuskan untuk mengamputasi karena jari tengah MS sudah tidak berfungsi lagi.

“Jarinya sudah tidak berfungsi ujungnya, akhirnya kami dikonfirmasi bahwa dilakukan amputasi,” kata Taufik, di Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (4/2) malam seperti dilansir dari Antara. Amputasi dilakukan sekitar pukul 18.00 WIB.

Taufik menjelaskan, keponakannya yang berusia 13 tahun itu tidak bercerita tentang kekerasan yang dia alami. Siswa kelas VII di SMP Negeri 16 Kota Malang tersebut menurutnya sosok pendiam.

“Keponakan saya itu anak yang pendiam, tidak suka mengadu,” ujar Taufik.

Terkait kasus tersebut, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang Kota telah melakukan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi dan tujuh murid terduga pelaku kekerasan. Para saksi dan terduga pelaku merupakan pelajar di SMPN 16 Kota Malang.

Pihak Polresta Malang Kota menyatakan menjamin keselamatan dan memberikan perlindungan kepada korban secara penuh, dan mengharapkan korban yang merupakan siswa SMPN 16 Kota Malang kelas VII tersebut bisa segera pulih.

“Terduga pelaku adalah teman korban di sekolah, ada teman sekelas, ada teman ekskul pramuka dan ada juga teman badan dakwah islam di sekolah tersebut, jumlah pelaku adalah 7 anak. Anak korban dikenal sangat pendiam, sehingga berpotensi menjadi korban perundungan,” kata Retno.

Bentuk perundungan yang dilakukan berupa, korban diangkat bersama-sama kemudian dijatuhkan di masjid selanjutnya diduduki dan diinjak tangannya. Selain itu, anak korban juga mengaku kerap jarinya terjepit ikat pinggangnya sendiri.

“Tindakan kekerasan tersebut menurut anak-anak pelaku bersifat bercandaan, tidak bermaksud meganiaya. Padahal bully atau bukan, yang menentukan adalah korban sendiri, bukan pelaku. Faktanya, bentuk perundungan yang dilakukan teman-teman korban sangat membahayakan keselamatan korban,” kata Retno.

KPAI menurut Retno akan melakukan pengawasan langsung atas kasus ini. Selain itu KPAI akan meminta pemerintah kota untuk memfasilitasi rapat koordinasi membahas penanganan kasus dan pencegahan kasus serupa terjadi di sekolah-sekolah lain.

Selain itu, proses hukum jika akan dilanjutkan harus dipastikan bahawa anak korban dan anak-anak terduga pelaku di proses sesuai dengan UU Perlindungan Anak (PA) dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

sumber: cnnindonesia

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.