Firasat Aneh yang Mewarnai Tenggelamnya Kapal John Rutledge 20-2-1856

Firasat Aneh yang Mewarnai Tenggelamnya Kapal John Rutledge 20-2-1856

0
BERBAGI

KataMedia.co – Sesaat setelah tengah malam, 20 Februari 1856, mualim 1 (first mate) menulis laporannya di buku harian atau logbook, ”Tengah malam, angina sepoi-sepoi, kapal hanya maju sedikit melewati es,” tulis Samuel Atkinson.

Kala itu, kapal tersebut dalam perjalanan dari Liverpool, Inggris menuju New York, Amerika Serikat, mengangkut besi dalam jumlah besar dan 124 manusia yangb kebanyakan adalah imigran asal Irlandia.

Badai demi badai menerjang setelah bahtera itu meninggalkan perairan Irlandia dan memasuki Samudra Atlantik yang galak.

Hujan deras turun dengan cuaca yang gelap berkabut, disertai ombak tinggi yang bikin isi perut bak dikocok.

Selama beberapa hari, palka ke kompartemen penyimpanan ditutup. Lebih dari 120 imigran di dalamnya berada di ruangan gelap itu, hanya diterangi lilin dari minyak ikan paus yang terus bergoyang. Bau asam dari muntahan isi perut menguar yang mengundang mual. Mereka dicengkeram rasa takut. Situasi di sana bak neraka.

Sejumlah pelaut veteran pelaut mengaku, pada awal 1856 adalah kondisi es terburuk yang pernah mereka lihat, bahkan secara turun-temurun, dengan balok-balok es yang menjulang tinggi, dikelilingi fragmen-fragmen yang lebih kecil tajam yang dikenal sebagai growler.

Sebuah gunung es yang tajam dan berkilau mirip enamel merobek haluan kapal. Lubang besar terbentuk tepat di bawah permukaan air. Mirip Titanic, hanya dalam itungan jam, malapetaka kemudian terjadi.

Kapten kapal, Alexander Kelley lalu memerintahkan orang-orang meninggalkan kapal yang nyaris karam. Lima sekoci diturunkan dan berlayar secara terpisah di tengah kabut tebal, meninggalkan 30 manusia yang masih ada di dalam kapal, termasuk sang mualim, Samuel Atkinson.

Thomas Nye ada di sekoci nomor lima bersama 12 orang lainnya. Ada segalon air dan sekitar 6 pon biskuit yang dibuat dari adonan tepung dan air, juga sebotol brendi yang diberikan Kapten Kelley kepada Nye pada saat-saat terakhir.

Namun perbekalan itu binasa dalam sekejap tersapu ombak yang menerjang perahu terbuka itu.

Setelah itu, kegilaan terjadi. Orang-orang mengalami delusi, kemarahan yang memuncak hingga ubun-ubun, suasana hati berubah cepat. Seorang pria mendadak emosi dan menjambak rambut istrinya. Seorang awak kapal mengigit lengan istri mualim keras-keras.

Beberapa orang sudah tewas, sisanya segera menyusul. Setelah sembilan hari terombang-ambing, tinggal Nye yang bernyawa di Sekoci Nomor 5. Empat jasad yang sudah beku ada di sekelilingnya.

Nye tahu, ia tak boleh meminum air laut, betapa pun dahaga menyiksanya. Keputusan itulah yang menyelamatkan nyawanya. Meski, ia tak punya daya untuk mendorong jasad-jasad yang ada dalam kapal.

Lalu, Nye melihat noktah di cakrawala. Kian lama, titik tersebut kian besar dan menunjukkan rupanya. Apakah itu kapal atau jangan-jangan fatamorgana?

Nye berdoa dengan sepenuh hati, berharap apa yang ia lihat adalah nyata. Ia kemudian melepas pakaian dari sesosok jasad dan melambaikannya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Awalnya, mualim atau wakil nakhoda Germania, Charles Hervey Townsend mengira, Nye adalah jasad yang digerakkan ombak. “Tak mungkin ada yang selamat di sana di tengah musim dingin,” itu yang ada dalam pikirannya.

Townsend kemudian mengarahkan teropong. “Tunggu sebentar,” kata dia. Dengan matanya sendiri, ia menyaksikan sosok manusia hidup.

Nye melambai lemah. Townsend balik melambai ke arahnya.

Bahwa Germania bisa ada di sana adalah hal mengejutkan. Itu mungkin kapal terakhir yang berada di garis lintang tersebut. Lainnya memilih melipir ke selatan, untuk menghindari bongkahan es.

 

Sumber : Liputan6

 

(Anna)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.