Heroisme Maguwo “Inspirasi dan Motivasi Pengabdian Kepada TNI AU”

Heroisme Maguwo “Inspirasi dan Motivasi Pengabdian Kepada TNI AU”

0
SHARE

Peristiwa heroik “Maguwo” yang terjadi 69 tahun lalu itu dan merupakan operasi udara pertama yang dilakukan oleh Angkatan Udara, Jumat (29/7) pukul 04.30 diperingati oleh generasi penerus TNI Angkatan Udara dengan melaksanakan Napak Tilas Rute Penerbangan Serangan Udara ke tiga kota itu yaitu Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Kegiatan yang dilaksanakan di Base Ops Pangkalan Udara Adisutjipto ini diawali dengan sambutan Komandan Komando Pendidikan TNI AU Marsda TNI Eko Supriyanto, SE, MM.

Suasana yang dibangun benar-benar mengingatkan tentang peristiwa heroik dan bersejarah tersebut. Ada simulasi dan teatrikal yang dilaksanakan para siswa instruktur penerbang lengkap menggunakan pakaian kadet penerbang pada jaman itu. Menggunakan 3 pesawat Grob G 120 TP-A yaitu pesawat Grob LD 1224 dipiloti oleh Mayor Pnb Yulianto, Mayor Pnb Surono menggunakan Grob LD 1208 dan Mayor Pnb Fahrurrozi menggunakan Grob LD 1216, bersama para Taruna ikut mendampingi dalam Pesawat mengudara di tengah kabut pagi Langit Maguwo selama kurang lebih 15 menit untuk menggambarkan suasana pada 69 tahun yang lalu.

Setelah mendapat perintah dari Perwira Operasi Komodor Udara Halim Perdanakusumah para ksatria dirgantara ini mengadakan briefing singkat serta dilanjutkan dengan pelaksanaan misi operasi. Tiga pesawat peninggalan Jepang, masing-masing satu pesawat Guntai dan dua pesawat Cureng, Selasa 29 juli 1947 pagi hari, lepas landas dari Pangkalan Udara Maguwo menuju Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Pesawat-pesawat yang diterbangkan para Kadet Penerbang itu mengemban tugas untuk melakukan serangan udara terhadap benteng pertahanan Belanda.

Pesawat Guntai dengan Kadet Penerbang Muljono dan juru tembak Abdurrahman menyerang Semarang. Sementara dua pesawat Cureng masing-masing diterbangkan Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan juru tembak Sutardjo untuk menyerang Salatiga, Suharnoko Harbani dan juru tembak Kaput menyerang benteng pertahanan Belanda di Ambarawa. Para Kadet Penerbang tadi menjalankan misi rahasia dari Kepala Staf Angkatan Udara Komodor S. Suryadharma sebagai reaksi balasan terhadap agresi Militer Belanda I yang melaksanakan serangan udara di wilayah-wilayah RI termasuk pangkalan udara di Jawa dan Sumatra. Sedangkan satu pesawat yang diawaki oleh Kadet Penerbang Bambang Saptoaji batal menjalankan misi karena ada kerusakan pesawat. Luar biasanya para kadet penerbang yang melaksanakan operasi udara tadi masih berusia sangat belia yaitu 19 tahun.

Dalam sambutannya, Marsda TNI Eko Supriyanto, SE MM mengatakan, Serangan Udara memperlihatkan semangat juang para ksatria dirgantara, kegigihan, keuletan, ketangguhan, serta keyakinan para pendahulu TNI Angkatan Udara dalam mengemban tugas mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Ditengah keterbatasan yang dimiliki oleh rintisan Sekolah Penerbang TNI AU, para “Tentara Langit” tetap mampu menunjukkan darma bhakti terbaiknya sebagai bentuk eksistensi Angkatan Udara menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Melalui Napak Tilas Serangan Udara, Marsda TNI Eko Supriyanto berharap agar peristiwa bersejarah ini dapat menjadi motivasi para siswa Sekbang dan seluruh generasi penerus TNI Angkatan Udara serta dapat meneladani jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme para pelaku Serangan Udara. Selain itu peristiwa ini dapat menjadi inspirasi dalam setiap pengabdian yang kemudian dapat diimplementasikan dalam tugas sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing, tegasnya.

Hadir dalam kegiatan napak tilas tersebut Komandan Lanud Adisutjipto Marsekal Pertama Imran Baidirus SE, Danwingdikterbang Kolonel Pnb Bonang Bayuaji G Kadispers Kolonel Pnb Dedy Susanto, Kadislog Kolonel Tek Jefry D. Ritau, Danskadik 101 Letkol Pnb Sukarno, Danskadik 102 Letkol Pnb Sri Rahardjo, Danskadik 104 Letkol Pnb Safeano Cahyo serta para pejabat di lingkungan Lanud Adisutjipto, perwakilan anggota Lanud Adisutjipto, AAU dan RSPAU dr. Hardjolukito, Siswa Sekolah Penerbang dan PSDP serta perwakilan Taruna AAU.

 

LEAVE A REPLY