Pentingnya Mendukung Laktasi Pada Ibu Pekerja

Pentingnya Mendukung Laktasi Pada Ibu Pekerja

0
BERBAGI
Ketua Tim Peneliti Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK dari Health Collaborative Center (HCC)

Para pekerja buruh hingga tenaga profesional saat ini banyak diisi oleh perempuan. Maka tak jarang, ibu melahirkan akan kembali ke tempat kerja setelah 3 bulan masa bersalin telah selesai.

Ini menyebabkan salah satu faktor terjadinya masalah kesehatan pada nutrisi anak. Kekurangan ASI Eksklusif bisa menyebabkan stunting. Oleh karena itu, seharusnya asi memang diberikan selama 6 bulan pertama pasca melahirkan.

Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 271 juta jiwa melalui sensus pada tahun 2020, mendapatkan < 80% pemberian ASI Eksklusif yang seharusnya. Data ini barulah awal sebelum memasuki masa pandemi seperti saat ini. Apa dampaknya bagi pemberian asi ekslusif selama masa ini?

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK dari Health Collaborative Center (HCC) justru menunjukkan bahwa keterbatasan operasional fasilitas kesehatan ibu hamil dan menyusui serta akses pelayanan konseling tidak menurunkan perilaku laktasi Ibu Indonesia, terutama kalangan Ibu Pekerja.

Survei daring dari HCC yang dilakukan di 20 provinsi di Indonesia membuktikan, selama masa pandemi Covid-19 di tahun 2020, angka ASI Eksklusif meningkat tajam mencapai 89%.

Menurut Ketua Tim Peneliti Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, kebijakan PSBB yang mengharuskan ibu tetap berada di rumah justru memberi pengaruh positif terhadap peningkatan perilaku laktasi.

Angka ini meningkat tajam dibanding angka ASI Eksklusif di Indonesia selama beberapa tahun ini yang masih berkisar antara 30-50%.”

Dr. Ray Wagiu Basrowi menjelaskan, penelitian dilakukan terhadap 379 responden Ibu Menyusui dari 20 provinsi di Indonesia ini menunjukkan peningkatan angka keberhasilan ASI Eksklusif di Indonesia selama masa pandemi.

Grafik sangat tinggi pada kelompok yang bekerja dari rumah (work from home) yaitu sebesar 97,8% serta pada kelompok Ibu menyusui yang tetap kerja dari kantor (work from office) sebesar 82,9%.

Temuan lain dari tim peneliti yang terdiri dari Prof. Dr. dr. Sudigdo Sastroasmoro, SpA(K) dan dr. Levina Chandra Khoe, MPH bahwa pemanfaatan konsultasi layanan kesehatan daring (online) selama Masa Pandemi Covid-19 (PSBB) di Indonesia sangat membantu Ibu menyusui.

Terbukti dari banyaknya jumlah ibu menyusui (sebesar 70%) yang berkonsultasi laktasi dengan tenaga kesehatan secara daring, terutama melalui aplikasi WhatssApp (sebesar 40%). Mayoritas responden mengakui layanan kesehatan daring selama masa pandemi sangat membantu dan efektif.

Dr. Ray menyatakan dalam penelitian ini masih banyak responden yang mengakui kendala jaringan dan kekhawatiran terhadap kerahasiaan data adalah faktor yang menghambat kualitas konsultasi menyusui secara daring.

“Itu sebabnya penting bagi pemerintah untuk memastikan aspek aksesibilitas dan kualitas jaringan serta tidak lupa melindungi aspek privacy dan perlindungan data pribadi serta detail medical record pasien yang memanfaatkan fasilitas telekonsultasi” tegas Dr. Ray Basrowi.

Temuan lain, 6 dari 10 Ibu mengakui keberadaan susu formula tidak jadi alasan berhenti menyusui selama masa pandemi. 5 dari 10 Ibu mengakui waktu kerja tidak fleksibel (harus WFO dan WFH) tidak menghalangi untuk tetap menyusui. Menurut dr Ray ini adalah bentuk tingginya tingkat pengetahuan Ibu Menyusui di Indonesia terhadap manfaat ASI Eksklusif bagi kesehatan bayi dan ibu.

Sementara itu salah seorang responden penelitian, Saskya Nabila mengungkapkan, kebijakan PSBB memberi kemudahan bagi ibu menyusui terutama ibu pekerja untuk punya waktu lebih banyak dan berkualitas dalam mengasuh bayi, termasuk memastikan kesuksesan menyusui secara eksklusif.

“Meskipun kesempatan konsultasi langsung dengan dokter menjadi terbatas, namun kesempatan untuk lebih hands-on dalam merawat bayi berdampak positif. Keberhasilan menyusui dan kedekatan emosional antara ibu dan bayi berguna untuk tumbuh kembang si kecil.” ujar Saskya.

Sementara itu, dukungan laktasi juga harus dilakukan dalam lingkungan keluarga. Bila rumah telah memberikan keleluasaan ibu untuk bisa melakukan work-life balance, anak juga akan mendapat peran ibu secara maksimal.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.