Sejumlah Pesohor Keberatan Ekraf Dilebur dengan Pariwisata

Sejumlah Pesohor Keberatan Ekraf Dilebur dengan Pariwisata

0
BERBAGI

KATAMEDIA.CO – Kembalinya sektor ekonomi kreatif atau ekraf ke Kementerian Pariwisata menimbulkan pro dan kontra.

Sejumlah pelaku seni Tanah Air melayangkan protes terkait itu.

Sebelumnya, ekraf sudah berdiri mandiri dengan sebuah lembaga bernama Bekraf.

Diketahui, ekonomi kreatif selama ini dibawahi oleh Kementerian Pariwisata.

Saat kepemimpinan Presiden Jokowi periode sebelumnya, sektor itu lalu dipisah dan dibuatkan lembaga sendiri.

Kini, dalam kabinet yang baru, ekonomi kreatif dikembalikan dan berbentuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dipimpin Wishnutama.

1. Angga Dwimas Sasongko

Salah satu yang menyuarakan protesnya adalah sutradara Angga Dwimas Sasongko.

Saya ga terima. Kerja dan legacy Bekrafselama ini harusnya diberikan wewenang lebih dalam administrasi baru,” tulisnya di akun Twitter @anggasaongko, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (23/10/2019).

Pernyataan sutradara film Filosofi Kopi tersebut menjawab ucapan pamit dari pihak Bekraf.

Resmi sudah, kami berganti. Mohon pamit menonaktifkan akun ini, hingga pemberitahuan lebih lanjut. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dan terima kasih atas segala perhatiannya selama ini. #BekrafPamit,” tulis akun Twitter resmi Bekraf.

Angga tak terima karena merasa kerja pimpinan hingga staf Bekraf selama ini sudah patut untuk diapresiasi dan malah perlu ditingkatkan.

Kepada para pekerja di Bekraf, dari Pak Kepala hingga penjaga gedung, saya kirim hormat dan terima kasih,” tulis Angga.

2. Ernest Prakasa

Komika sekaligus sutradara Ernest Prakasa mengungkapkan pandangannya tentang ditunjuknya Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Menurut Ernest, pariwisata dan ekonomi kreatif adalah sektor besar yang sangat potensial.

“Iya, ekonomi kreatif itu, kan, besar ya maksudnya potensial buat masa depan bangsa,” kata Ernest saat dihubungi Kompas.com, Rabu (23/10/2019).

Ernest tidak setuju Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dibubarkan dan dilebur dengan Kementerian Pariwisata.

Menurut dia, Bekraf tak semestinya dilebur dengan sektor pariwisata.

“Ya walaupun ada kekurangan, tetapi, kan, sebagian program-program Bekraf tuh sudah terlaksana dengan baik. Kalau digabung lagi di bawah (kementerian) pariwisata ya gimana ya,” ujar Ernest.

Ia tak setuju dengan hal tersebut meskipun Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dijabat Wishnutama.

“Maksudnya walaupun dipegang sama Pak Wishnutama orang ekonomi kreatif, tetapi kalau handle dua (sektor) itu ya pusinglah,” tutur Ernest.

3. Anang Hermansyah

Musisi dan politikus Anang Hermansyah mengkritisi penggabungan kembali sektor ekonomi kreatif dengan Kementerian Pariwisata.

Padahal, menurut Anang, undang undang yang mengatur ekonomi kreatif baru saja lahir.

“Belum sebulan kita punya UU Ekraf, sekarang justru digabung dengan pariwisata, UU Ekraf tak lagi bermakna,” kata Anang dalam keterangan tertulisnya yang mengutip katamedia Kompas.com, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Sebab, Anang menilai, adanya UU Ekraf tujuannya untuk menjadi tonggak penting kebangkitan sektor ekonomi kreatif di Indonesia.

Sementara baik ekonomi kreatif maupun pariwisata tidaklah beririsan secara langsung.

Sehingga ketika dua sektor itu disatukan, maka menurut Anang, alih-alih terjadinya peningkatan, malah bisa menjadikan penggarapan dua sektor tersebut tidak fokus.

Mantan anggota Komisi X DPR RI periode 2014-2019 itu juga mempertanyakan peleburan kembali sektor ekonomi kreatif dan pariwisata dalam satu kementerian. Ia merasa hal itu sebagai sebuah kejanggalan.

“Saya terus terang kaget dengan rencana penggabungan dua sektor ini. Ada anomali (penyimpangan) yang terjadi dari rencana ini,” ujar Anang.

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.