Benarkah Nonton Film Joker Bisa Mengganggu Kesehatan Mental?

    0
    BERBAGI

    KATAMEDIA.CO – Film Joker besutan DC Comics tengah menjadi sorotan publik, setelah diduga dapat memicu masalah kesehatan mental (mental illnes). Bahkan, sejak dirilis pada Rabu 2 Oktober 2019 lalu, film ini berhasil memicu perdebatan hebat di kalangan netizen.

    Contohnya seperti ulasan yang ditulis oleh Henry Manampiring melalui akun twitternya. Penulis buku Filosofi Teras itu berasumsi bahwa Film Joker sukses menumbuhkan rasa simpatinya kepada sang tokoh utama Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang merupakan tokoh villain di film tersebut. Apakah nonton film ini dapat mengganggu kesehatan mental?

    “Gimana Joker? Well, gw benar-benar merasa empati kepada tokoh Arthur, dan kemudian merasakan simpati pada situasi dia. Gw ikut merasakan hidup jadi ‘kerak’ paling bawah. Bukan hanya peristiwa hidup, bahkan identitas terdalam elo,” cuit Henry.

    Secara garis besar, film Joker memang menggambarkan kemarahan Arthur atas perlakuan dunia dan kehidupan sosial yang tak adil. Ia pun akhirnya bertransformasi menjadi sosok penjahat yang memiliki misi menghancurkan dan menteror Gotham City.

    “Empati jadi simpati, dan ini yg bikin gw gak nyaman. Kompas moral gw protes saat Arthur mulai transformasi ke ‘kegelapan’, tapi sisi laen gw rooting for him,” tegas Henry.  Klik halaman selanjutnya untuk informasi lebih lanjut mengenai film Joker yang katanya bisa mengganggu kesehatan mental.

    Kontroversi Film Joker masih berlanjut setelah sebuah foto mendadak viral di media sosial. Dalam foto tersebut, seorang wanita tampak membawa poster bertuliskan, “Orang Jahat Adalah Orang Baik yang Tersakiti,”.

    Poster ini rupanya memicu perdebatan di kalangan netizen Indonesia. Dalam sebuah utasan yang diunggah oleh akun Twitter @nagotejena, ia mengaku tidak setuju dengan pernyataan wanita yang ada di dalam foto tersebut karena.

    “Sejujurnya saya tidak begitu setuju dengan quotes-quotes ini.. Kenapa? Simpelnya, karena kita begitu mudah menggunakan kata “baik” untuk menutupi “kelemahan” kita,” tegas Nago.

    Nago memberikan contoh ketika seorang anak SMA terpaksa memberikan contekan kepada teman-teman kelasnya karena tidak bisa menolak. Dari contoh kasus ini ia menarik kesimpulan bahwa masih banyak individu yang tidak mampu mengemukakan argumennya, tidak mampu melawan pendapat orang lain, dan tidak mempertahankan diri sendiri.

    “Aliha-alih mengakui bahwa kita masih lemah, kita berlindung dengan label “baik”.. dan menyalahkan society yang “buruk”,” tambahnya.

    Mengganggu kesehatan mental

    Selain menimbulkan pro dan kontra, Film Joker juga diklaim dapat memperparah kesehatan mental bagi mereka yang memiliki riwayat mental issues. Bahkan menjelang peluncurannya, film besutan sutradara Todd Phillips dan dibintangi aktor kawakan Joaquin Phoenix itu disebut-sebut berpotensi membangkitkan memori tragedi penembakan massal di Aurora, Colorado pada 2012, serta dikhawatirkan akan menyulut insiden serupa tahun ini.

    Hal tersebut berhasil menarik perhatian Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. mengutip katamedia Okezone, wanita yang akrab disapa Mei itu menjelaskan bahwa film ini bisa menimbulkan dua dampak yang berbeda tergantung kondisi mental si penonton.

    “Seperti 2 sisi mata uang. Kalau penontonnya tidak memiliki masalah mental enggak akan jadi masalah, karena film ini menggambarkan perjuangan seorang Joker dalam menghadapi kemisikinannya” terang Mei saat dihubungi via sambungan telefon, Minggu (6/10/2019).

    Namun di sisi lain, sosok Arthur atau Joker digambarkan dalam kondisi mental yang tidak stabil. Hidupnya penuh konflik, tragis, dan ironis, sehingga film ini dikhawatirkan dapat memicu atau bahkan mengganggu kesehatan mental.

    “Tontonan atau lingkungan itu hanya salah satu bagian yang dapat memperparah kesehatan mental. Jadi memang tidak direkomendasikan bagi yang memiliki kecenderungan atau masalah dengan kesehatan mental. Dikhawatirkan dapat terbawa dan memicu secara psikologis,” tegas Mei.

    Lebih lanjut, Mei menjelaskan, bila ditelisik secara mendalam, film Joker mengajak penonton untuk menyelami jiwa seorang Arthur yang ‘sakit’ di tengah kehidupan sosial yang tidak adil. Ini bisa sangat berbahaya ketika dikaitkan dengan kondisi politik dan kesejahteraan di Indonesia.

    Masyarakat Indonesia sebenarnya kurang lebih mengalami hal yang sama dengan kehidupan Arthur. Banyak orang merasa hidupnya begitu susah, serba mahal, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin.

    Maka dari itu, Joker hanya cocok untuk mereka yang memiliki pemahaman yang baik terhadap diri sendiri dan kehidupannya. Tidak direkomendasikan untuk individu dengan riwayat kesehatan mental dan remaja yang masih mencari jati diri.

    Mei khawatir bila nantinya banyak orang yang menganggap kejahatan sebagai hal wajar dan bisa dimaklumi. Terlebih setelah melihat perjalanan hidup dan penggambaran sosok Arthur dalam film tersebut.

    “Saya cuma khawatir kalau yang menonton jadi memiliki simpati terhadap tokoh Arthur, atau pada akhirnya memiliki empati karena penggembaran film itu. Sehingga saat kita melihat kekejaman yang dilakukan Arthur jadi maklum karena film itu sangat mudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Ini yang tidak boleh terjadi,” pungkasnya.

    LEAVE A REPLY

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.