Sisi Lain di Balik Gemerlapnya Dunia SPG Otomotif

    0
    BERBAGI

    KATAMEDIA.CO – Masih cukup hangat tentang kasus pembunuhan Sales Promotion Girl (SPG) di Bali pekan lalu. Namanya Ni Putu Yuniawati (39) yang dibunuh seorang gigolo, Bagus Putu Wijaya (33) di sebuah Hotel di jalan Kebo Iwa, Denpasar, Bali.

    “Ya begitulah, tersinggung terus sakit hati,” komentar talent management, Tasya, soal kasus tersebut.

    Tasya tidak memungkiri kasus tersebut adalah bagian dari gelapnya dunia pemasaran yang menempatkan perempuan seksi di garda terdepan penjualan sebuah produk. Terlebih, jika SPG tersebut sedang bertugas untuk brand otomotif.

    “Dunia hitam SPG,ya psti enggah jauh. Sorry to say. Ada SPG yang plus plus ya. Ada yang bener-bener murni kerja cari uang, tapi enggak sedikit yang yaudahlah kedoknya SPG tapi sambil ‘jualan’ juga,” ungkap Tasya melansir katamedia Merdeka.com, Sabtu (17/8/2019) malam.

    Sejauh ini citra SPG otomotif memang selalu miring. Baju seksi, wajah cantik, dengan bentuk badan yang menunjang, membuat mereka dianggap mudah saja untuk diajak ‘ngamar’.

    Soal hal itu, Tasya mengaku adanya praktik esek-esek berkedok SPG. Meski tak semua melakukan hal itu.

    “Ada sih, mungkin emang enggak semua ya tapi emang ada beberapa,” akunya.

    Kasus pembunuhan SPG mobil di Bali, Ni Putu Yuniarti (39) berawal dari hubungan terlarangnya dengan pelaku, Bagus Putu Wijaya (33) yang merupakan seorang gigolo. Keduanya berkenalan di dunia maya.

    Kala itu, entah sedang membidik target atau memang perlu, pelaku ‘mencolek’ korban dengan alasan hendak membelimobil. Gayung bersambut, keduanya bertemu hingga disepakatai penjualan mobil dari korban ke pelaku dengan pemberian cek senilai Rp 10 juta.

    Seakan sama-sama mengisi kekosongan, keduanya terbuai dalam hubungan yang lebih dalam tapi terlarang. Bagus Putu mulai blak-blakan akan jati dirinya yang seorang gigolo.

    Mendengar hal itu, muncul ketertarikan korban untuk ‘mencicip’ jasa esek-esek pelaku. Dengan kesepakatan Rp 500.000 dan dibelikan ponsel, pelaku menerima ajakan ‘kencan’ dari korban.

    Tak sesuai harapan, korban mengompkai jasa esek-esek yang diberikan pelaku. Dia mengaku tidak puas dengna ‘pelayanan’ pelaku dan merasa sudah dirugikan.

    “Akhirnya tersangka merasa tersinggung, korban tadi ditarik dan dibekap dengan handuk. Sehingga lemas, seelah itu korban meninggal dan tersangka meninggalkan penginapan dans etelah itu tersangka pergi dan tertangkap di Sulawesi Utara,” jelas Kapolresta Denpasar, Kombes Ruddi Setiawan.

    Tasya melanjutkan, tarif sekali kencan biasanya dipatok mulai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Tarif itu bisa naik berkali lipat, jika klien yang mereka dapatkan adalah kelas kakap sekelas pejabat.

    “Bisa Rp 3 juta sampai Rp 5 juta,” katanya.

    Tak bisa dipungkiri pula, pembawaan menarik para SPG bisa menarik perhatian konsumen. Tapi, risiko untuk digoda juga besar. Tasya membeberkan bahwa klien-klien nakal suka melontarkan godaan-godaan, mulai main mata bahkan mencolek.

    “Ya begitu deh. Main mata, siul-siul, nyolek-nyolek juga tuh,” katanya.

    Meski tak semua SPG otomotif melakukan hal yang tidak seharusnya, namun anggapan negatif terhadap SPG otomotif sudah terlanjur melekat. Pakai baju seksi, berarti bisa diajak kencan. Padahal tidak semua.

    “itu karena ada kesalahan si A si B si C, jadi semua itu merembet. Jadi menganggap SPG yang di event itu bisa dibooking, padahak kan enggak. Cuma beberapa saja,” jelasnya.

    Rupanya, soal klien nakal ini juga ada klasifikasinya. Pertama, yang hanya untuk bersenang-senang. Kedua, untuk simpanan.

    Pendapatan SPG plus-plus ini pun bisa meningkat, jika bersedia menjadi simpanan. Tasya mengatakan, fasilitas mulai dari apartemen hingga barang-barang branded akan dipenuhi. Fasilitas tersebut belum termasuk tunjangan per bulan.

    “Kalau simpanan biasanya bisa sampai dapat apartemen, mobil sama uang bulanan. Nilai uang bulanan basanya tergantung kesepakatan mereka. Banyak tuh yang mau jadi simpenan,” kata Tasya.

    Jika ingin tahu soal pakaian terbuka nan seksi para SPG itu, pada dasarnya adalah ketentuan dari perusahaan yang menyewa jasa mereka. Tasya menjelaskan, para calon SPG itu sudah mengetahui konsekuensi jika menerima pekerjaan dari brand otomotif.

    “Itu kebijakan dari perusahaan sama anaknya. Tapi kan biasanya dari perusahaan udah kasih tahu konsekuensi. Nanti pakai seragam kayak gini. Tergantung anaknya (SPG) kalau mau pasti ambil jobnya kalau enggak ya nolak,” jelas Tasya.

    Menurutnya, untuk SPG yang bertugas pada event dengan mayoritas brand otomotif, memang memakai baju seksi. Tapi berbeda pula jika brand yang mereka pegang adalah brand makanan. Pakaian yang dikenakan para SPG disesuaikan, akrena segmentasi pasar yang berbeda.

    “Sekarang aku udah enggak jadi SPG lagi. Lebih ke management, untuk memasukkan anak-anak yang mau ikut SPG event. Aku selalu bilang kalau jaga produk ini konsekuensinya begini begini. Aku jabarin biar kerjanya juga nyaman,” tandasnya.

    LEAVE A REPLY

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.