Mengenal Pasar Modal di Indonesia Beserta Sejarahnya

Mengenal Pasar Modal di Indonesia Beserta Sejarahnya

0
BERBAGI

KATAMEDIA.CO – Tahukah Anda, tanggal 3 Juni kemarin adalah peringatan Hari Pasar Modal Indonesia. Pasar modal atau bursa efek telah ada di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda atau tepatnya sejak tahun 1912 di Batavia. Meskipun demikian, pasar modal juga sempat mengalami kevakuman hingga Pemerintah Republik Indonesia kembali mengaktifkannya pada tahun 1977. Nah, tanggal 3 Juni diperingati sebagai Hari Pasar Modal Indonesia karena mengacu pada dibukanya kembali Bursa Efek oleh Presiden Soeharto pada tanggal 3 Juni 1997.

Lalu, apa sebenarnya Pasar Modal itu? Bagaimana tentang sejarahnya di Indonesia? Simak informasinya dibawah ini!

Pengertian Pasar Modal 

Menurut idx, pasar Modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, seperti surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misal: pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Kesimpulannya, pasar modal dapat dibeli oleh para pemberi modal dan dijual oleh perusahaan atau institusi yang membutuhkan dana.

Sejarah Pasar Modal di Indonesia

Dirangkum dari beberapa sumber, pasar modal di Indonesia telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Menurut catatan sejarah dari buku berjudul ”Effectenginds” yang diterbitkan oleh Vereneging voor Effectenhandel pada tahun 1939, pasar modal hadir sejak kurun 1880-an meski tanpa organisasi resmi sehingga catatan transaksi tidak lengkap. Pada tahun 1878, ddidirikan sebuah perusahaan perdagangan komunitas dan sekuritas pertama di Indonesia, yaitu Dunlop & Koff yang menjadi awal mula PT Perdanas.

Perdagangan efek pertama yang dibukukan terjadi pada tahun 1892. Perdagangan tersebut terjadi saat perusahaan perkebunan bernama Cultuur Maatschappij Goalpara di Batavia melakukan penjualan 400 saham seharga 500 gulden/saham. Selanjutnya, empat tahun berikutnya (1896), harian Het Centrum dari Djoejacarta juga mengeluarkan prospektus penjualan saham senilai 105 ribu gulden dengan harga 100 gulden/saham.

Pada awal abad ke-19, Pemerintah Kolonial Belanda yang sedang membangun perkebunan di Tanah Air secara besar-besaran kemudian menawarkan saham perusahaan perkebunan kepada kalangan masyarakat elit. Pemerintah saat itu mendirikan cabang pasar modal Amsterdamse Effectenbueurs atau Bursa Efek Amsterdam di Batavia pada 14 Desember 1912. Bursa Efek di Batavia tersebut berhasil menempati posisi ke-4 tertua di Asia setelah Bombay (1830), Hongkong (1847), dan Tokyo (1878).

Pertumbuhan pasar modal di Indonesia cukup pesat pada saat itu. Meski demikian, perkembangan pasar modal di Indonesia tidak berjalan mulus, bahkan beberapa kali sempat mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti Perang Dunia I, Perang Dunia II hingga peralihan kekuasaan dari Pemerintah Kolonial Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Lebih rinci adalah pada tahun 1914 Bursa Efek di Batavia sempat ditutup karena meletusnya Perang Dunia I, hingga dibuka kembali pada tahun 1918. Kemudian karena perkembangannya, pada tahun 1925 dibukalah Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Semarang. Namun pertumbuhan pasar modal sempat anjlok saat pecahnya Perang Dunia II pada tahun 1939 hingga Bursa Efek Sururabaya dan Semarang harus ditutup, menyusul kemudian ditutupnya Bursa Efek Batavia pada tahun 1942.

Sepuluh tahun kemudian, Pasar Modal di Indonesia kembali diaktifkan dengan UU Darurat Pasar Modal Tahun 1952. Namun, kondisi pasar nasional kembali memburuk karena adanya nasionalisasi perusahaan asing, sengketa Irian Barat, dan tingginya inflasi pada akhir pemerintahan Orde Lama yang mencapai 650% sehingga dengan Bursa Efek Jakarta di tutup kembali pada tahun 1956. Sejak itu, terjadi kevakuman perdagangan di Bursa Efek yang terjadi cukup lama. Hingga kemudian Pemerintah Indonesia kemudian mengaktifkan kembali pasar modal di Indonesia pada tahun 1977.

Emiten pertama Bursa Efek Indonesia adalah PT Semen Cibinong yang melakukan penjualan saham perusahaan di pasar modal saat peresmian Bursa Efek. Pasar Modal di Indonesia diawasi oleh suatu lembaga bernama Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Fungsi dari BAPEPAM adalah melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan Pasar Modal.

Selama kurun waktu 10 tahun setelah itu, perdangan di bursa masih lesu sehingga hanya memiliki 24 emiten. Baru setelah pemerintah melakukan deregulasi pada tahun 1987, gairah pasar modal kembali meningkat. Hingga kini, jumlah investor di Indonesia sudah mencapai 2 juta lebih orang, baik investor saham, obligasi maupun reksa dana. Terlepas dari berbagai perkembangan tersebut, tentu masih banyak hal yang harus dikerjakan untuk membuat pasar modal semakin diminati bagi investor maupun para pelaku industri pasar modal.

Pasar modal dapat menjadi salah satu sasaran investasi yang aman dan menguntungkan bagi seseorang karena semua transaksi dan sistem berjalan bisa dipelajari dan terdapat aturan yang jelas. Apakah Anda tertarik untuk ikut terlibat? Jika ya, Anda dapat mengikuti Sekolah Pasar Modal yang diselenggarakan secara berkala oleh pihak dan lembaga terkait.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.