Waspada! Gejala Kanker Paru-paru Tidak Bisa Terdeteksi

Waspada! Gejala Kanker Paru-paru Tidak Bisa Terdeteksi

1
BERBAGI

KATAMEDIA.CO –  Sulit terdektesi, minim gejala, tapi risko kematian besar. Itulah kanker paru-paru, penyebab kematian akibat kanker terbesar di dunia.

Mengenali faktor risiko dan deteksi dini menjadi hal yang mendesak di tengah mahalnya pengobatan kanker yang satu ini. Kanker paru-paru adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol di jaringan paru-paru. Bila tidak diobati, pertumbuhan sel ini bisa menyebar keluar dari paru-paru melalui proses yang disebut metastasis ke jaringan terdekat atau bagian tubuh lainnya.

Sebagian besar kanker paru-paru, yang dikenal sebagai kanker paru primer, adalah karsinoma yang berasal dari sel epitel. Jenis utama kanker paru-paru adalah SCLC (kanker paru-paru sel kecil), juga dikenal sebagai kanker sel gandum, dan NSCLC (kanker paru non-sel kecil). Penyebab paling umum kanker paru-paru adalah paparan jangka panjang terhadap asap tembakau, yang menyumbang 80-90% kanker paru-paru. Non-perokok mencatat 10-15% kasus kanker paru-paru, dan kasus ini biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, gas radon, asbes, dan polusi udara termasuk asap rokok pasif.

Lebih dari separuh orang yang memiliki kanker paru-paru meninggal dalam kurun waktu satu tahun setelah diagnosis. Studi yang dilakukan terhadap para penyandang kanker selama 38 tahun oleh National Cancer Institute di Amerika ini menunjukan betapa harapan hidup untuk penderita kanker paru-paru begitu rendah dibandingkan dengan kanker lain. Faktor risiko penting terkena kanker paru-paru adalah jika anda perokok aktif maupun pasif di atas 40. Menurut Dr. Elisna Syahruddin, Sp.P(K), Phd, staf pengajar Department Pulmonologi dan Respirasi FKUI, ini tak lepas dari karakteristik kanker paru-paru yang khas. “Kanker paru-paru sulit ditemukan. Kalau sudah terdeteksi, pasien umumnya tidak tertolong. Belum lagi biaya pengobatan yang sangat mahal” ujar dokter yang bertumpu di RSUP Persahabatan ini. Dr. Eslina menambahkan bahwa perjalanan sel kanker paru-paru cukup panjang. Jika kanker terdeteksi sebesar 1 centimeter saja dengan CT Scan, itu berarti awal kanker sudah terbentuk 10 tahun sebelumnya. Jika organ paru-paru kita dibuka dan direntangkan, maka luasnya akan sama dengan lapangan bola. Karena itu, wajar jika ada sel kanker 1 centimeter yang tidak bergejala khas, kecuali ia tumbuh tepat di saluran pernafasan. Itulah Jsebabnya deteksi dini sangat penting.

Di Indonesia, problem dan tantangan kanker paru-paru berbeda dari Negara lain. Dr. Niken Watsu Palupi, MKM, Kepala Sub-Direktorat Kanker, Kementerian Kesehatan RI, menguak bahwa selain kasus baru yang terus meningkat, pembiayaan juga semakin tinggi, kanker paru-paru adalah pos pembiayaan tertinggi ketiga BPJS pada 2016. “ini yang membuat Kemenkes RI memutuskan untuk mengambil langkah-langkah intervensi, di antaranya dengan mengampanyekan pentingnya memelihara lingkungan sehat, menjalankan gaya hidup sehat, mengetahui faktor risiko, dan melakukan deteksi dini”, papar Dr. Niken. Sementara itu, untuk mereka yang sudah terdiagnosis, maka yang bisa dilakukan semaksimal mungkin adalah penatalaksanaan kasus, pencegahan komplikasi, rehabilitasi, dan menjalankan program paliatif agar kualitas hidup pasien dapat meningkat. Karena rokok menjadi penyebab utama kanker paru-paru, pemerintah membuat kebijakan perlindungan terhadap paparan asap rokok. Salah satunya adalah kawasan tanpa rokok berdasarkan PP No. 109 tahun 2012. Selain itu, di sejumlah puskesmas tersedia upaya berhenti merokok, layanan konselling bagi perokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti.

Dalam perlakuan terkait kanker paru-paru, Dr. Niken memaparkan pembagian tiga kelompok berbeda : berisiko, berisiko tinggi, dan bukan berisiko. Tiga kelompok ini mendapatkan perlakuan yang berbeda. Untuk kelompok berisiko, dilakukan edukasi dan pemeriksaan paru-paru rutin, serta foto toraks minimal setahun sekali. Pada kelompok risiko tinggi atau berisiko dengan gejala (seperti batuk-batuk), akan dilihat apakah ini TB (tuberkolosis) paru-paru atau bukan TB paru-paru. Baru Dr. Niken maupun Dr. Eslina menegaskan bahwa kelompok berisiko, baik perokok aktif maupun pasif, harus diedukasi tentang bahaya akibat paparan asap rokok. Hal ini sangat krusial mengingat Indonesia masuk dalam 3 besar Negara perokok tertinggi di dunia.

“Penting sekali mengenali faktor risiko, salah satunya jika anda adalah perokok aktif maupun pasif di atas usia 40 tahun. Perokok pasif adalah mereka yang terpapar asap rokok dalam waktu lama dan terus menerus,” kata Dr. Eslina.
Lebih rinci Dr. Eslina menjelaskan dua faktor terkait rokok penyebab kanker, yaitu asap dan aliran asap. “Asap mengandung sekitar 40 zat karsinogen penyebab kanker. Inilah yang menyebabkan perokok pasif berisiko kanker,” tandasnya.

Gejala kanker paru-paru yang tidak khas sering kali mengecoh. Kerap kali, gejala menyerupai keluhan penyakit pernapasan lain seperti batuk, sesak napas, dan nyeri dada. Karena itu, Dr. Eslina berpesan, jika batuk lebih dari dua minggu, jangan didiamkan. Temui dokter, yang akan menentukan apakah itu batuk TB, batuk alergi, atau penyakit lain. “Pastikan bahwa jika Anda masuk dalam kelompok risiko, lakukan pemeriksaan seperti foto toraks setahun sekali. Kalau anda termasuk kelompok risiko tinggi dan memiliki gejala, datanglah ke spesialis paru untuk memastikan penyakit anda bukan kanker paru-paru,” tegas Dr. Elisna.

Dr. Elisna mencatat tantangan pengobatan kanker paru-paru adalah sulitnya mengambil jaringan untuk kebutuhan pemeriksaan – apakah teknik pemeriksaan dan obatnya bisa diadakan atau tidak. Ini karena pengobatan kanker paru-paru tidak bisa berhenti selama masih dibutuhkan.

FAKTOR RISIKO PENTING ADALAH JIKA
ANDA PEROKOK AKTIF MAUPUN PASIF
DI ATAS USIA 40.

Bagaimana dengan pencegahan? Perlu dipahami bahwa kanker paru-paru tidak muncul begitu saja. Tubuh punya kemampuan “re-manajemen.” Inilah yang membuat kanker paru-paru bisa dicegah : ada fase untuk kita melakukan pencegahan. Yang tak bisa dicegah adalah jika orangnya “bandel,” sudah ada risiko tapi tetap merokok. “Pencegahan utama: jangan pernah jadi perokok. Yang kedua, kalau sudah merokok, segeralah berhenti. Agar tubuh anda bisa kembali ke fase sebelumnya, karena tidak 100% perokok mengalami kanker. Ketiga, lakukan cek kesehatan secara rutin,” pesan Dr. Eslina.

Menurut Dr. Eslina, langkah pencegahan bisa dilakukan dengan menjalankan slogan “I can” dan “We can”. “I can” berarti sesuatu yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri sendiri agar bebas dari kanker. “We can” berarti ini tugas bersama, termasuk kebijakan pemerintah untuk melindungi warganya, menekan kasus, dan menciptakan lingkungan yang sehat,” pungkas Dr. Elisna.

Anda perlu tahu bahwa, Rokok dapat lemahkan Gen Pelindung Arteri. Studi terbaru jurnal Circulation menegaskan bahwa merokok meningkatkan risiko seseorang terhadap penyumbatan arteri, karena rokok melemahkan gen yang seharusnya berfungsi melindungi pembuluh darah. Temuan ini didapat dari analisis data genetic 140.000 orang, dengan fokus terhadap genome yang sebelumnya diketahui memiliki kaitan dengan peningkatan risiko penumpukan plak di dalam arteri jantung. Menurut tim ilmuwan dari Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania, ketika sel-sel yang melapisi arteri terpapar ekstrak asap rokok, produksi enzim ADAMTS7 berlipat ganda. Enzim ini sebelumnya diketahui menurunkan risiko gangguan jantung pada non-perokok. Merokok telah diketahui menjadi penyebab 1 dari 5 kasus penyakit jantung koroner, dan juga dikaitkan dengan sekitar 1,6 juta kematian di dunia per tahun.

Selain faktor rokok, ternyata Radon menjadi faktor risiko kanker paru-paru. Ada satu faktor risiko kanker paru-paru yang tak banyak dikenal seperti asap rokok dan polusi, yakni radon. Gas bumi dari batu dan tanah ini bisa berbahaya jika terperangkap di dalam rumah dan mencapai level tertentu. Level normal adalah sekitar 400. Itulah sebabnya, dulu tak banyak penderita kanker paru-paru, karena ventilasi rumah yang baik sehingga taka da radon yang terperangkap. Kini, dengan pemukiman padat, tidak sehatnya sirkulasi udara menjadi masalah.

Lingkungan kerja juga turut andil, seperti pertambangan dan pembuatan abses. Rumah gadang, rumah tradisional Minangkabau, menjadi salah satu contoh paling ideal bangunan yang terbebas dari radon. Selain banyak ventilasi, rumah panggung yang tidak langsung menyentuh tanah ini memungkinkan kadar radon yang lebih rendah.

Seperti hal nya sosok sang legenda musik di Indonesia Chrismansyah Rahardi, atau biasa disebut Chrisye. Chrismansyah Rahardi ini dilahirkan dari keluarga Tionghoa – Indonesia di Jakarta, 16 september 1949. Sejak kecil, Chrisye telah tertarik dengan dunia musik. Sewaktu duduk di bangku SD, Chrisye mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya; dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin. Saat Chrisye duduk di bangku SMA, Beatlemania tiba di Indonesia. Ini membuat Chrisye lebih tertarik dengan dunia musik. Menganggapi hendak Chrisye untuk bermain musik, ayahnya membeli sebuah gitar; Chrisye memilih gitar bas, sebab dia beranggapan bahwa gitar tersebutlah yang paling mudah dipelajari. Dia berambut gondrong selama sebagian besar kariernya, hingga kemoterapi membuat semua rambutnya rontok.

Tidak satupun orang percaya bahwa Chrisye adalah seorang perokok berat/aktif. Sewaktu SMA, Chrisye diam-diam mulai merokok. Pada suatu saat dia ditangkap kepala sekolah dan disuruh merokok delapan batang secara bersamaan di depan siswa-siswi lain, tetapi dia tetap terus merokok sehingga menjadi perokok berat.

Pada bulan Juli 2005 dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah karena sesak nafas. Setelah 13 hari dirawat, dia dipindahkan ke Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura, di mana dia dinyatakan mengidap kanker paru-paru. Biarpun khawatir bahwa dia akan kehilangan rambutnya yang gondrong, yang dia menganggap sebagai bagian citranya, dia menjalani kemoterapi enam kali, dengan perawatan pertama pada tanggal 2 Agustus 2005.

Pada 30 Maret 2007, akibat kanker paru-paru yang dideritanya Chrisye meninggal pada pukul 4:08 WIB di rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan. Dia dikebumikan di TPU Jeruk Purut hari itu juga. Ratusan orang menghadiri pemakamannya itu, termasuk Erwin Gutawa, Titiek Puspa, Ahmad Albar, Sophia Latjuba, dan Ikang Fawzi. Seratus hari setelah meninggalnya Chrisye, Musica mengeluarkan dua album kompilasi. Album ini, dengan judul Chrisye in Memoriam – Greatest Hits dan Chrisye in Memoriam – Everlasting Hits, termasuk empat belas lagu per keping dari sepanjang kariernya bersama Musica. Singel Chrisye terakhir, “Lirih”, yang ditulis oleh Aryono Huboyo Djati, diluncurkan setelah lebih dari 1 tahun meninggalnya Chrisye. Lagu tersebut mula-mula dirahasiakan, dan tanggal perekamannya tidak diketahui. Menurut Djati, lagu itu direkam sebagia hiburan. Sebuah video klip yang disutradarai Vicky Sianipar dan termasuk Ariel Peterpan, Giring Ganesha dari Nidji, dan janda Chrisye lalu dirilis.

(Brenda Rusli) 

1 KOMENTAR

  1. I have noticed you don’t monetize your page, don’t waste your traffic, you can earn additional cash every month because you’ve
    got hi quality content. If you want to know how to make
    extra money, search for: Ercannou’s essential adsense alternative

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.