Pejuang Yang Tak Dianggap

Pejuang Yang Tak Dianggap

0
BERBAGI

KataMedia.co – Begitu banyak pejuang yang bertaruh nyawa untuk Kemerdekaan Republik Indonesia, dan hal yang paling miris ialah banyak nya pejuang-pejuang tersebut yang terlupakan bahkan di lupakan. Tan Malaka, adalah satu dari pejuang yang berjasa untuk mendapatkan Kemerdekaan Indonesia. Ia pun selalu mengambil andil penting dalam momen-momen yang terjadi di Negara ini. Soekarno, sebagai Presiden pertama dan sekaligus sang proklamator. Mengakui bahwa Tan Malaka sebagai seseorang yang paham akan revolusi, Soekarno pun menjadikan buku karangan Tan Malaka yang berjudul “Massa Actie” sebagai inspirasi bagi gerakan dan pidato-pidato Soekarno.

Namun sangat di sayangkan, Tan Malaka dan Soekarno bersebrangan dalam garis politiknya. Tan Malaka beranggapan bahwa Soekarno dan Hatta telah berkolaborasi dengan pihak Belanda dalam upaya Kemerdekaan Indonesia. Karena Tan Malaka berfikir bahwa Indonesia harus mendapatkan Kemerdeakan nya secara penuh, tanpa ada nya campur tangan dari pihak penjajah. Mohammad Yamin sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia ia mengagumi sosok Tan Malaka, dan ia menganggap bahwa Tan Malaka sejajar dengan Jefferson dan Washington yang telah membangun Kemerdekaan Amerika Serikat.

Moh Yamin mengatakan ” Ia (Tan Malaka) pantas menerima segala kehormatan sebagai Bapak Republik Indonesia, seperti telah diramalkannya di dalam risalahnya tahun 1924,” ucap nya.Tan Malaka sendiri terlahir sebagai seorang Muslim dan menjadi seseorang yang paham Marxisme dan Komunisme, ia menuangkan teorinya tentang Madilog (Materialisme Dialektika Logika) sebuah pengkritisan dari seorang Tan Malaka atas teori Materialisme Dialektika Historis (MDH). Berdasarkan teori Madilog ini, menurut Tan Malaka ketika menghadap Tuhan dia seorang Muslim, tetapi dihadapan manusian dia bukan Muslim (Komunis).

Indonesia dan Islam selalu menghadapi sebuah permasalahan yang sama, yaitu Kolonialisme dan Imperialisme begitu menurut Tan Malaka. Sehingga dalam sebuah Kongres Komunis Internasional ke-4. Ia menyampaikan gagasan kepada forum tersebut bahwa perlunya sebuah Komite yang mendukung perjuangan Pan Islamisme, menurutnya jika Pan Islamisme di dukung, kekuatan Islam akan dapat di manfaatkan oleh Pemerintah dan di pakai untuk memperluas propaganda anti Komunis. Nyatanya, di Medan pejuang sebenarnya dalah para buruh-buruh miskin dalam sarekat Islam dan buruh-buruh yang di gerakan PKI menghadapi musuh yang sama yaitu penjajah kolonialisme Belanda.

Dari pemikaran nya itulah Tan Malaka mendapatkan berbagai macam cibiran dari banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana kiprah nya ia ketika memperjuang kan Kemerdekaan Indonesia. Cibiran tersebut muncul lantaran Tan Malaka adalah tokoh dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menganut paham Marximisme. Nyata nya jika kita ingin belajar jauh kebelakang, banyak pula para pejuang dan tokoh-tokoh pendiri bangsa yang begitu paham dan setuju dengan teori Marx dan Engels tersebut. Tjokroaminoto,  dalam sebuah biografinya yang ditulis oleh Amelz dan diterbitkan Penerbit Bulan Bintang pada hal 37 menyatakan bahwa : “Beliau (Tjokroaminoto) dalam kursusnya tidak mencela Marx dan Engels, bahkan berterima kasih pada keduanya sebab teori Historis Materialisme dan Engels, -kata beliau-, telah membawa jelasnya bagaimana kesatuan sosialisme yang dibawa Nabi Muhammad.” Di kutip dari berdikarionline.co . (Ariya)

 

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.