Mandor Berdarah

Mandor Berdarah

0
BERBAGI
Pembantaian Penduduk Kalimantan Barat oleh Militer Jepang di Kecamatan Mandor.

KataMedia.co – Pada tangga 28 Juni 1944, peristiwa berdarah  terjadi di wilayah Kabupaten Landak Kecamatan Mandor, Kalimantan Barat. Peristiwa pembantaian masal ini tidak mengenal etnis dan ras oleh para tentara Jepang.  Pembantaian tersebut di mulai ketika Jepang mencurigai di wilayah Kalimantan Barat dan Selatan, adanya komplotan-komplotan yang terdiri dari berbagai macam latar belakang. Mulai dari para bangsawan lokal, cerdik pandai, ambtenar, tokoh masyarakat,  politisi, tokoh agama dan rakyat sipil biasa serta dari berbagai macam etnis, suku dan agama yang berbeda.

Dampaknya, komplotan tersebut di tangkapan dan di bantai. Penangkapan tersebut terjadi sekitar September 1943 dan awal 1944. Jumlah korban dalam peristiwa tersebut menurut data yang ada, ± 21.037 orang. Tetapi Jepang menolak jumlah tersebut dan mengatakan jumlah korban sebenarnya menurut mereka hanya 1.000 orang saja. Pembantaian terjadi akibat ketidak sukaan nya pihak jepang terhadap pergerakan pemberontakan di wilayah Kalimantan Barat tersebut, di karenakan penjajah Jepang ingin menguasai seluruh Sumber Daya Alam (SDA) yang di miliki wilayah tersebut . Khususnya di sekitar Kecamatan Mandor, Kalimantan Barat. Memang pada saat itu merupakan salah satu potensi daerah penghasil tambang yang telah di ketahui oleh pihak Jepang. Oleh sebab itu, Jepang sudah siap dengan segala macam hal untuk segera mendapatkan kekayaan alam Borneo tersebut.

Sebelum peritiwa Mandor ini terjadi, terlebih dahulu peristiwa Cap Kapak yang dimana Pemerintah Jepang saat itu mendobrak pintu – pintu rumah masyarakat. Pemerintah Jepang tidak ingin terjadi nya pemberontakan di Kalimantan Barat. Menurut harian Jepang Borneo Shinbun, saat itu Jepang sudah merencanakan Genosida untuk memberangus semangat perlawanan masyarakat Kalimantan.  Dimana Genosida yaitu, semua orang yang di ketahui berumur 12 tahun ke atas akan di bunuh dan libas dengan keji oleh pasukan huru hara jepang. Serta anak-anak pribumi Kalimantan Barat yang berusia di bawah 12 tahun akan di didik oleh tentara Jepang, selebihnya akan di gantikan oleh imigran Jepang untuk menempati Kalimantan Barat yang akan di jadikan sebagai Negara Boneka tersebut

Akibat pembantaian tersebut, orang-orang Dayak di Kalimantan Barat mulai membunuh orang-orang Jepang pada akhir 1944. Namun tetapi, perlawanan tersebut tidak mengancam kekuasaan Jepang saat itu. Dari tragedi tersebut, lahir lah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni sebagai hari berkabung daerah Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini merupakan kepedulian serta sekaligus apresiasi dari DPRD Kalimantan Barat terhadap pergerakan Nasional yang di jadi di Kecamantan Mandor. (Ariya)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.