BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) DKI Jakarta Adakan Kegiatan Seminar Energi

BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) DKI Jakarta Adakan Kegiatan Seminar Energi

0
BERBAGI

KATAMEDIA.CO –  BEM DKI Jakarta menghelat seminar energi dengan mengangkat tema “Apa Skema Gross Split Menguntungkan Negara?” Menjadi cikal bakal hadirnya Kementrian ESDM, SKK Migas, Dan PT. Pertamina Hulu Energi. (22/7).

Kegiatan seminar ini digelar atas dasar mendorong pemerintah, khususnya ESDM agar lebih serius menangani krisisnya kesejahteraan umum dalam sektor energi.

Ainul Faqih Koordinator Presidium BEM DKI Jakarta Mengatakan, Pelaksanaan UUD 45 Pasal 33 harus lebih diperhatikan, sebab menyoal keberpihakan terhadap kesejahteraan umum harus di tuntaskan.

“Kaitannya untuk mencapai kesejahteraan umum sebagaimana termaktub dalam paragraf keempat pembukaan UUD ’45, itu kan sudah jelas” Tegasnya.

Dalam semaraknya seminar tersebut beberapa point disampaikan Prahoro Yulijanto Nurtjahyo (Staff ahli Bidang Investasi dan Pengembangan Infrastruktur Kementerian ESDM). Ia menjelaskan Gross Split bertujuan : 1. Mendorong usaha eksplorasi dan eksploitasi yang lebih efektif dan cepat, 2. Mendorong para kontraktor Migas dan Industri Penunjang Migas untuk lebih efisien sehingga lebih mampu menghadapi gejolak harga minyak dari waktu ke waktu, 3. Mendorong Bisnis Proses Kontraktor Hulu Migas (K3S) dan SKK Migas menjadi lebih sederhana dan akuntabel. Dengan demikian Sistem Pengadaan (procurement) yang birokratis dan perdebatan yang terjadi selama ini menjadi berkurang, 4. Mendorong K3S untuk mengelola biaya operasi dan investasinya dengan berpijak kepada sistem keuangan korporasi bukan sistem keuangan negara.

“Salah satunya manfaat dari sistem Gross Split, Mendorong Industri migas lebih kompetitif, pengelolaan SDM, Teknologi dan sistem dan biaya operasi,” terang Prahoro.

Menurut Sampe L. Purba, Tenaga Ahli SKK Migas bahwa Sistem PSC Konvensional model yang lama itu berhasil baru dibagi. Sedangkan Gross Split ini pembagian hasil dilakukan di awal. Dan Pemerintah tetap sebagai pihak yang mengawasi dan mengontrol. Siapapun yang mengelola, semua tetap harus mengikuti aturan Negara.

SKK Migas sudah melakukan kajian secara mendalam, bahwasanya Gross Split itu menguntungkan Negara dan tidak merugikan kontrkator.

“Yang akan ditindak lanjuti oleh SKK Migas, akan menyiapkan proses bisnis dan PTK yang lebih efisien, dan beradaptasi dengan PSC Gross Split. Implementasi PSC Gross Split akan memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian/Lembaga lainnya, antara lain terkait Aset, Perijinan, dan Perpajakan dan Memerlukan dukungan UU Migas yang baru,” kata Sampe di Gedung Dewan Pers.

Metode KBH dengan gross split adalah cost game, yg menekankan sisi efisiensi pada Kontraktor. Metode PSC konvensional juga bagus, namun diberikan beberapa pilihan kepada Kontraktor, baik dengan konvensional, atau dengan gross split.

Danang Ruslan Saleh, Manajer Commercial and Project Pertamina Hulu Energi mengatakan, Hanya satu Gross Split yang berjalan di Indonesia yang diolah oleh pertamina. Bisa jadi ini juga adalah yang pertama di dunia. Sudah bagi hasil tetapi biaya pengelolaan kontraktor yang menanggung. Negara tidak akan menanggung biaya. Gross Split memberikan keleluasaan bagi kontraktor untuk mengolah. Jadi sebisa mungkin kontraktor akan bekerja secara efisien sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih rasional. Dan kami tidak membebani Negara.

Hadir sebagai undangan seminar energi Kabid PSDA HMI Badko Jabodetabeka-Banten. Aulia mengapresiasi seminar yang digelar yang tegas secara subtansinya.

Ia berfikir Pembuat kebijakan tentang gross split ini bahwasanya mereka sudah mengkaji secara mendalam dan apa saja efek samping dari gross split ini.

“Pemikiran pemerintah melakukan gross split ini dikarenakan hanya minyak mentah dunia yang sekarang masih tetap sangat murah (dibawah 50 US$). Sedangkan Indonesia sampai sekarang masih berharap untuk bergantung dana APBN dari hasil minyak dan gas bumi.” Jelasnya

Ia menambahkan, Walaupun sekarang ksudah mengimpor lebih sebanyak hasilkan. Hasil sekarang 800 ribu barrel/ hari dan kita impor 800 ribu barrel/hari. Untuk memenuhi kuota minyak dalam negeri kita, maka dari itu inisiatif Gross Split tersebut dikeluarkan, supaya menarik investor asing”. Beber aulia.

“Seharusnya kita butuh jawaban dari para kontraktor asing yang ingin bersedia investasi di Indonesia atau masih tetap melakukannya, karena kita harus mnelihat dari segala sisi kemungkinan Gross Split ini, tetapi belum ada hasil real dikarenakan Gross Split baru dilaksanakan bulan Januari 2017 dan itupun masih Pertamina. Jadi, belum bisa dipastikan secara faktualnya,” tutup aulia. (ALDI) 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.