Cerpen – Segores Sinar Paras Purnama

Cerpen – Segores Sinar Paras Purnama

0
BERBAGI
Pict by: pixabay.com

SEGORES SINAR PARAS PURNAMA
Oleh: Dian Hendriwati

Pagi itu, Adam sudah rapi dengan pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari berangkat kuliah. Mengenakan kaos lengan pendek dirangkap kemeja lengan panjang, yang mana bagian lengannya digulung sampai siku, kemudian dipadukan celana jeans, serta dilengkapi sepatu kets yang membungkus apik kakinya. Menimbulkan kesan simpel dan santai pada dirinya. Adam menuruni anak tangga sambil menggendong ransel di bahu kirinya.

“Dam, sarapan dulu, sini.” Panggil Mamanya yang sudah berada di meja makan bersama Papa dan adik perempuannya yang bersekolah pada jenjang SMA.

“Iya, Ma.” Sahut Adam sambil berjalan ke meja makan, lalu duduk di kursi makan yang biasa ia tempati.

“Gimana barang-barang bawaannya sudah disiapkan semua?” tanya Mama lagi sambil menoleh ke ransel Adam.

“Sudah, Ma. Semalam Adam sudah menyiapkannya. Lagi pula tidak banyak yang mesti dibawa, kok.”

“Kamu pergi berapa lama, Dam?” kali ini Papa yang bertanya.

“Kurang lebih hanya lima hari, Pa.” Jawab Adam yang sekadar dibalas anggukkan oleh Papanya.

Hari ini Adam akan pergi mendaki gunung bersama teman-temannya yang sudah mereka rencanakan seminggu sebelumnya. Ya, ia memang suka mendaki gunung bersama teman-temannya di saat liburan perkuliahan tiba. Tidak sering memang. Tapi ia menyukai itu.

“Hati-hati lo, Kak. Gue denger-denger itu gunungnya tinggi banget.” Celetuk adik Adam yang berada di sampingnya.

“Hahaha tenang aja, kan gue ini hebat. Jadi bisa dipastikan gak akan terjadi apa-apa, adikku sayang.” Ujar Adam sambil mencubit pipi adiknya itu serta diiringi tawa jahilnya. Sementara adiknya yang dicubit, menunjukkan muka masam dan mengusap-usap pipinya sambil bergumam sesuatu.

Setelah sarapan, Adam bergegas untuk berangkat. Ia melihat arlojinya, berpikir jangan sampai terlambat. Ia berpamitan kepada orang tuanya dan berlalu masuk ke dalam mobil yang sudah ditunggu oleh sopirnya. Tidak seperti biasa, Adam berangkat kuliah membawa mobil sendiri. Karena ia akan bepergian, dan berkumpul bersama teman-temannya terlebih dahulu di tempat yang sudah mereka tentukan. Sebelum akhirnya bersama-sama menuju gunung yang akan mereka daki.

Di pinggir jalan raya, tiba-tiba mobil Adam mogok. Sopirnya keluar untuk memeriksa dan terlihat mengotak-atik mesin bagian depan mobil, sementara Adam yang di dalam mobil, terus melihat arlojinya. Tak dapat menunggu lebih lama, ia pun akhirnya keluar dan bertanya pada sopirnya menanyakan perihal mobilnya. Sopir yang ditanya pun menggelengkan kepala sembari mengakui ia tidak bisa memperbaikinya. Akhirnya, Adam berencana naik taksi. Namun selama sepuluh menit menunggu, tak kunjung ia mendapatkan taksi. Kemudian ia melihat sebuah bus mini yang mengarah di jalan depannya. Tanpa pikir panjang, ia menaiki bus mini itu. Di dalam bus, ia menyesali menaiki kendaraan itu. Sebab keadaannya yang begitu panas dan sesak. Tapi untunglah ia masih mendapatkan bangku di samping jendela. Meski begitu, tetap saja ia merasa kepanasan, sebab ini kali pertamanya naik bus mini. Sambil terus mengibaskan kerah kemejanya bermaksud bisa menghasilkan angin, Adam tak henti-hentinya mengutuk hari di mana bus mini diciptakan, dan menyumpahi taksi-taksi yang hari ini tidak lewat di depannya tadi. Membuatnya merasakan kesulitan seperti ini.

Sementara bus mini berjalan, banyak pedagang makanan dan pengamen yang masuk ke dalam bus itu. Adam benar-benar merasa muak dengan keadaan seperti ini. Namun ia tak punya pilihan lain. Sampai tiba ada seorang bapak paruh baya, membawa bungkusan besar plastik hitam. Adam mengenali bapak itu. Ia sering kali melihat bapak itu di lampu merah saat ia berangkat kuliah. Bapak itu menjual sesuatu barang di dalam bungkusan plastik hitam besar yang ia gendong dan menawarkannya kepada setiap kendaraan. Ia seakan tak menghiraukan terik matahari yang menyengatnya. Adam tak pernah begitu jelas melihat benda apa yang dijualnya. Sebab ia tak peduli dan berpikiran bahwa orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang tak berusaha dan mudah putus asa. Harusnya mereka sadar, pekerjaan itu tak berguna meski sangat melelahkan dan menyusahkan. Padahal, hampir seluruh kendaraan mengacuhkannya. Namun mereka tetap bertahan pada situasi seperti itu. Bukankah artinya mereka tak mau berusaha lebih dan putus asa begitu saja?

Tetapi Adam terbayang ucapan Papanya mengenai orang-orang itu saat membicarakan hal ini. Ia masih ingat Papanya mengatakan bahwa orang-orang seperti mereka bukanlah orang-orang yang tidak mau berusaha lebih dan berputus asa pada keadaan. Justru mereka sudah sangat berusaha dengan bertahan pada keadaannya. Tidak seperti peminta-minta yang ingin mendapatkan uang tetapi tak melakukan apapun. Dunia ini keras. Orang-orang bersaing dengan ganasnya. Sementara dunia pekerjaan makin sempit dan telah dipenuhi oleh orang-orang yang berpendidikan. Mereka hanyalah orang-orang tidak beruntung yang tidak mendapat kesempatan untuk berpendidikan tinggi, sehingga tidak mampu bersaing untuk meraih pekerjaan yang lebih baik. Jadi mereka melakukan apa yang hanya bisa mereka lakukan. Demi menghidupi keluarganya, apapun mereka lakukan meski betapa sulitnya.

Adam termangu mendapati bapak itu meletakan sebuah benda berbentuk pulpen namun berukuran lebih besar di atas ranselnya yang ia pangku. Ternyata si bapak penjual membagikan benda jualannya ke para penumpang. Apa ini maksudnya? Apa seluruh penumpang dipaksa membelinya? Ia tak ingin membelinya. Setelah selesai membagikan benda itu, bapak penjual itu kembali ke depan dan mengatakan sederetan kalimat mengenai benda berbentuk pulpen itu. Ternyata benda itu senter mini. Adam memperhatikan benda itu. Sementara si bapak penjual berjalan mengambil senter yang ia bagikan sebelumnya ke para penumpang yang tidak berminat membelinya. Sampai saatnya ke Adam. Awalnya memang Adam tak ingin membelinya. Namun entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja ia mengeluarkan uang dari dompetnya, lalu membeli benda itu. Kemudian si bapak penjual turun dari bus mini masih dengan gendongan plasik besarnya itu beserta isinya, karena tidak ada yang membeli, terkecuali Adam. Saat itulah Adam baru sadar ia telah membeli benda itu.

“Ah, mengapa juga aku membelinya?” Gumam Adam sambil berpikir.
“Yasudahlah. Mungkin saja suatu saat benda ini bisa berguna.” Lanjutnya sambil menatap senter pulpen di tangannya serta mengedikkan bahu. Kemudian menjejalkan benda itu ke dalam saku celananya.

Sesampainya Adam di tempat titik kumpul yang telah disepakati oleh ia dan teman-temannya, sudah berkumpul lima anak muda laki-laki seusia Adam serta membawa ransel yang sama seperti Adam. Mereka yang tak lain teman Adam, meledeki Adam yang datang penuh dibanjiri peluh.

“Ya ampun, Dam, berkat nunggu lo, gue udah tidur selama dua jam.” Canda salah satu temannya.

“Lo abis jogging dulu kali, Dam, sampe keringetan, begitu? Haha.” ucap temannya yang lain.

“Haha sorry, bro. Mobil gue mogok di tengah jalan tadi. Ini aja gue naik bus mini.” Sahut Adam sambil mengusap peluh di dahinya.

“Hahaha yaudahlah mending kita berangkat sekarang, nanti takut kesorean sampai sana.” Ujar temannya yang lain, yang kali ini ucapannya terdengar benar.

Mereka berangkat menuju gunung yang mereka akan naiki. Benar saja, sesampainya di sana sudah sore. Hingga mereka mendaki sampai hari mulai gelap. Akhirnya mereka tiba di pertengahan puncak gunung. Karena sudah merasa kelelahan, dan keadaan pun sudah gelap, mereka memutuskan istirahat malam ini dan melanjutkan pendakian esok hari saat matahari mulai menunjukkan giginya. Setelah memasang tenda dan menaruh barang bawaan mereka di dalamnya, merasa udara malam itu terasa sangat dingin, mereka berniat mencari kayu-kayu ataupun ranting pohon untuk dibakar membuat api unggun. Adam dan ketiga temannya memilih mencari kayu bakar, sementara dua orang temannya menunggu di tenda sembari menjaga ransel serta barang-barang bawaan mereka.

Saat mereka sedang mencari kayu untuk dibakar, karena suasana yang gelap, Adam terpencar dari ketiga temannya. Namun ia tidak gentar dan terus mengumpulkan kayu pun ranting-ranting pohon yang ada di hutan itu. Setelah merasa cukup dengan beberapa kayu yang kini sudah di tangannya, ia memutuskan untuk kembali ke tenda, melihat arloji yang melingkar di lengannya pun sudah menunjukkan waktu semakin larut. Namun, akibat keadaan yang gelap, Adam tak mengenali jejak untuk kembali ke tendanya. Tetapi Adam berusaha agar tak panik dan mencoba mencari arah kembali ke tenda.

“Weh, si Adam ke mana?” tanya salah satu temannya yang menyadari tak ada wujud Adam di belakang mereka. Dua yang lainnya menengok ke belakang, dan benar saja mereka tak mendapati Adam di belakang mereka.

“Bukannya tadi si Adam ada di belakang kita?”

“Astaga tuh anak pakai acara ketinggalan segala lagi.”

“Yaudah, lebih baik kita cari dia dulu sebelum kembali ke tenda. Khawatir dia gak inget arah kembali ke tenda.”

Mereka mencari Adam. Sementara di seberang sana, Adam sudah merasa kakinya payah. Ia mulai berjalan gontai sambil memaut ranting-ranting pohon di hutan itu dengan kedua tangannya. Tak menyadari ada lembah kecil di depannya, Adam pun terpeleset jatuh ke bawah lembah itu. Sontak ia kaget dan meringis. Kini, benar-benar Adam tampak menyerah dengan keadaannya. Kakinya terasa ngilu. Usahkan naik ke atas, berdiri pun Adam tak bisa. Sehingga ia memilih berdiam di tempat itu. Namun tak bisa menyangkal, Adam pun kengerian terjebak sendiri di sana. Mengingat saat itu pun sudah larut malam.

Saat sedang mencari upaya jalan keluar dari masalahnya saat ini, tiba-tiba Adam terbayang benda mini yang sempat dibelinya ketika naik bus yang ia taruh di saku celananya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda mini itu. Ya, benda itu senter yang berbentuk seperti pulpen dan mudah dibawa kemana pun. Kemudian Adam mencoba mengetes kegunaan benda itu dengan memencet tombol yang tertera di salah satu ujungnya, yang tampak lengkung seperti busur. Lalu benda itu memampangkan cahaya dari ujung yang satunya lagi yang tampak lancip. Cahaya itu membentangkan sinar yang sangat terang, apalagi dalam keadaan gelap tanpa cahaya seperti saat ini. Tak lama, senyumnya mengembang, ia menemukan cara untuk membantunya keluar dari keadaan ini. Ia memusatkan cahaya senter itu ke atas, berharap temannya maupun pendaki lain melihat cahaya itu. Berpikir upaya itu tidak cukup membantunya, ia berteriak menyerukan kata “tolong”.

Teman-temannya yang setia masih mencari Adam, terus mengedarkan pandangan mereka. Kemudian mereka melihat sebuah cahaya dari arah bawah yang memanjang ke atas hingga memantul di dedaunan sekitarnya. Cahaya itu pun bergerak-gerak. Mereka saling berpandangan. Berharap hal itu bukan suatu hal yang tidak beres yang rentan terjadi di tempat seperti ini. Masih dengan wajah bingung dan pikiran masing-masing, mereka dikejutkan mendengar seruan seseorang dari bawah sana. Tampak mereka mencerna suara yang sepertinya mereka kenali. Ketika suara itu terdengar lagi, dan kali ini tampak jelas, mereka saling menatap dan membelalakan mata. Itu suara seseorang yang sedang mereka cari sedari tadi. Mereka langsung berhamburan ke arah cahaya itu.

“Adam!!” seru teman-teman Adam bersahut-sahutan memanggilnya.
Adam yang merasa namanya dipanggil, ia mendongak, lalu mendapati ketiga temannya berada di atas sana. Ia bersyukur ternyata upayanya berhasil, dan hal itu melalui perantara sebuah benda kecil yang telah dirancang sedemikian rupa dengan keunggulan cahayanya. Akhirnya ketiga temannya berhasil mengeluarkan Adam dari lembah kecil itu.

Keesokan paginya, Adam beserta teman-temannya berencana melanjutkan pendakian mereka hingga puncak gunung. Mereka sudah mengemaskan kembali tenda dan barang-barangnya. Ketika akan menggendong ranselnya, ia melihat senter mini berbentuk pulpen itu. Lalu ia mengambilnya. Memandang serta memerhatikan benda yang telah membantu menyelamatkannya semalam.

“Syukurlah aku membeli benda ini. Ternyata setiap benda atau hal apapun memiliki kegunaan dan manfaat tersendiri, maka sebab itu ia diciptakan. Kita hanya perlu menyadari dan tidak menyiakannya.” Ujar Adam sambil tersenyum simpul menatap benda di tangannya itu. Lalu ia menaruhnya ke dalam saku celana, sebagaimana awalnya. Kemudian bergegas mengayunkan kakinya meninggalkan jejaknya di tanah itu dan melanjutkan pendakian bersama teman-temannya.

Tangerang, 22 April 2017

Baca juga karya lainnya =>

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.