Cerpen – Bila Aku Dipoligami

Cerpen – Bila Aku Dipoligami

1
BERBAGI
Pict by: Moodygrams

BILA AKU DIPOLIGAMI

Oleh : Dita Dwi Selvia

“Bila kau dipoligami, apakah kau rela?” tanya Lia, salah satu sahabatku. Matanya sembab. Sepertinya ia habis menangis semalaman.

“Mengapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu mempunyai masalah tentang poligami?” tanyaku.

“Ya Al. Suamiku ingin poligami. Entah apa salahku padanya sehingga ia ingin berpoligami.” jawabnya. Ia semakin menangis. Aku menghembuskan napas beratku.

“Li, jika di lauhul mahfudz sudah tertulis seperti itu, kamu bisa apa? Jika kamu menentang takdir yang sudah tertulis, artinya kamu menentang kuasa Tuhan. Izinkan saja jika suamimu ingin berpoligami. Jika kamu mengizinkannya, surga adalah jaminan untuk keikhlasan dan keridhoanmu dipoligami.” jelasku. Lia menghapus air matanya dan menatapku dalam.

“Bila itu terjadi padamu, apa kamu akan setegar saat ini?” tanyanya lagi. Aku bungkam mendengar pertanyaannya. Ya, aku belum pernah berada di posisi Lia. Tapi aku yakin aku takkan sekuat dan setegar saat ini. Aku mengulas senyum tipis dan mengusap punggung Lia.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa setegar ini jika suamiku mau poligami. Tapi satu yang aku tahu, poligami itu sunnah Rasulullah SAW. Daripada suamimu terjebak zinah dengan wanita lain, ikhlaskan saja dia berpoligami.” jelasku. Ya walaupun sebenarnya aku belum tahu apakah aku bisa setegar ini nantinya tapi aku tetap harus menyemangati sahabatku ini.

“Kamu benar, Al. Jika suamiku berzinah dengan wanita itu, maka akulah yang berdosa karena sudah melarangnya berpoligami. Terima kasih, Alea. Kamu sudah menyadarkanku.” ucapnya tersenyum. Aku pun tersenyum mendengarnya.

“Al, aku pamit pulang dulu ya. Terima kasih atas nasihat kamu. Sekarang aku jadi tenang.” aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Lia berdiri dari duduknya dan pergi dari rumahku.

Aku menata meja makan sembari menunggu suamiku turun dari atas. Aku tersenyum saat mendengarnya bersenandung. Ia tampak sangat bahagia. Oh, aku sangat senang melihatnya seperti itu.

“Bahagia sekali, Mas.Apa kamu menang tender?” tanyaku tanpa ragu. Ia tersenyum lalu menggenggam erat jemariku.

“Iya, Dik. Mas menang proyek itu. Dan mas yang turun langsung mengawasi jalannya proyek itu.” jawabnya dengan mata yang berbinar-binar. Aku menyentuh pipinya dan mengusapnya lembut.

“Aku turut bahagia, Mas.” ucapku dengan tersenyum.”oh iya Mas, tadi sore Lia ke rumah. Dia curhat sama aku.” lanjutku.

“Oh ya? Cerita apa dia, Dik?” tanyanya.

“Suaminya mau poligami, Mas. Kasihan dia.” jawabku.

“Uhuk…”entah mengapa tiba-tiba suamiku terbatuk. Aku memberikannya minum dengan segera.

“Kenapa, mas?” tanyaku heran.

“Dik, mas ingin bicara sesuatu kepadamu.”ucapnya dengan serius.

“Kamu kenapa, Mas? Kenapa tiba-tiba serius sekali?” aku mengerutkan dahi merespon ucapannya. Dia berdeham dan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatapku ragu. Aku hanya tersenyum untuk menenangkannya.

“Dik, kamu tahu kan kalau mas sangat mencintaimu. Tapi mas juga lelaki biasa, Dik. Mas ingin punya keturunan. Ibu juga sudah mendesak agar mas segera memiliki anak, Dik.” ucapnya. Aku terdiam mencerna ucapannya. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.”mas izin menikah lagi, Dik. Restui mas buat menikah lagi.”lanjutnya. Senyum dibibirku memudar. Hatiku sesak mendengarnya. Apa ini? Suamiku ingin berpoligami? Ya Tuhan, beginikah yang dirasakan oleh Lia? Rasanya sakit. Sangat sakit. Tuhan, aku harus apa? Aku mengulas senyum terpaksa di depan suamiku.

‘Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku harus membiarkan suamiku berpoligami. Aku tidak mau suamiku terjerumus zinah.Ya, berpoligami adalah sunnah Rasul-Mu. Aku yakin ini semua sudah tertulis di jalan takdirku. Aku harus berlapang dada menerimanya. Semoga ini pilihan terbaikku. Kuatkan Hamba ya Allah.’batinku mulai bergejolak. Aku menarik napas beratku dan menghembuskannya perlahan.

“Aku menyetujuinya, Mas. Tapi, ada satu syarat yang harus kau penuhi.” ucapku akhirnya.

“Apa itu, Dik?” tanyanya. Ada rasa penyesalan di nada bicaranya. Aku tersenyum untuk membuatnya tenang.

“Pertemukan aku dengan wanita itu.” jawabku. “aku ingin mengetahui bagaimana maduku kelak.” lanjutku dengan tersenyum. Suamiku hanya tercengang mendengar permintaanku.

“Mas…” panggilku. “bagaimana?” tanyaku lagi.

“I iya. Mas akan mempertemukanmu dengannya.” jawab suamiku. Kami melanjutkan makan malam itu dalam suasana hening yang tak biasa.

***

“Maafkan aku, Alea. Aku tidak bermaksud merebut suamimu.” ucapnya dengan nada menyesal. Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ya, aku sudah bertemu dengannya. Dia Andrina, sahabatku yang sebentar lagi menjadi maduku. Jangan tanya bagaimana hatiku. Sakit, sangat sakit. Namun, aku bisa apa? Dia juga tidak berdaya. Dan aku pun tak ingin menentang takdir Tuhan di hidupku.

“An, aku tidak apa-apa. Jika ini semua sudah tertulis di jalan takdirku, aku bisa apa? Aku yakin Tuhan punya rahasia di balik semua ini. Aku merestui pernikahan kalian.”aku berusaha tersenyum meskipun hatiku teriris. Ya, ini pilihanku. Dan aku tak bisa lagi mengelak dari pilihanku.

“Terima kasih, Al. Aku beruntung punya sahabat sebaik kamu.” ia memelukku. Jujur, aku kecewa kepadanya. Tapi, dia tetap sahabatku. Sahabat yang dulu membantuku saat aku susah. Jadi, apa aku layak membencinya hanya karena masalah ini? Aku rasa tidak. Aku tahuTuhan punya rahasia dibalik apa sudah digariskan untuk hidupku.

***

Tubuhku  gemetar menahan isak tangis dari bibirku. Hari ini suamiku akan menikah dengan sahabatku.Ibuku berulang kali menenangkanku dan meyakinkanku bahwa pilihanku ini adalah pilihan terbaik.Aku menghapus air mataku ketika mendengar seseorang membuka pintu.

“Mas, ada apa?” tanyaku menghapiri sosok yang berada di ambang pintu. Ia memelukku erat.

“Kamu wanita hebat, Dik. Disaat yang lain tak mengizinkan suaminya menikah, kamu malah sebaliknya. Mas mencintaimu, Dik. Mencintaimu sampai 7 kehidupan kita.” bisiknya. Aku melepaskan pelukan suamiku dan menatapnya dalam.

“Aku juga mencintaimu, Mas. Sungguh aku sangatmencintaimu. Sekarang, mas siap-siap sebentar lagi ijab qabulmu akan dimulai.” ucapku dengan senyum setenang mungkin.

“Kamu juga harus mendampingi mas, Dik. Tanpamu, mas tidak akan melakukan ijab qabul ini.” pintanya. Aku mengangguk perlahan dan tersenyum tulus kepadanya. Ia beranjak dari hadapanku.

“Nak, kalau kamu tidak sanggup, kenapa kamu mengatakan iya? Sebaiknya kamu di dalam kamar saja. Ibu tidak mau kamu bersedih di bawah nanti.” ucap ibuku. Aku menggeleng perlahan.

“Tidak, Bu. Ini permintaan suamiku. Dan aku harus memenuhinya.” jawabku setenang mungkin. Aku berjalan ke meja riasku dan merapikan riasan wajahku.

“Bu, ayuk kita ke bawah. Ijab qabul suamiku akan segera dimulai. Dan aku tidak mau melewatkan satu momen pun.” ajakku dengan wajah tenang seperti tak ada beban. Ibuku hanya menganggukkan kepala dan turun ke bawah bersamaku.

Kini, jika mereka bertanya ‘bila kau dipoligami, apakah kau akan mengizinkan suamimu?’ aku akan menjawab dengan kepala terangkat ‘ya, tentu aku mengizinkannya. Bukan aku tak mencintai suamiku. Aku mengizinkannya berpoligami karena aku mencintainya dan tak ingin ia terjerumus zina. Aku tak mengharapkan apapun karena aku hanya mengharapkan ridho Tuhan yang seiring sejalan dengan ridho suamiku. Bagiku, mencintai karena Allah sama seperti mata air yang takkan habis mengalir meskipun kemarau panjang menghampiri’. Ini kisahku, Alea Sasongko, bagaimana kisahmu?

 

Baca juga karya lainnya =>

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.