Presiden Yang Terlupakan

Presiden Yang Terlupakan

0
BERBAGI
Dua orang tokoh Pemimpin Indonesia yang terlupakan sejarah.

KataMedia.co –  Saat ini bangsa Indonesia di pimpin oleh Presiden ke tujuh, yaitu Joko Widodo yang sebelumnya menggantikan era Pemerintahan ke enam dari Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga saat ini rakyat Indonesia hanya mengenal ke tujuh sosok orang yang pernah memimpin bangsa Inodnesia ini, yaitu Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY dan yang terakhir Joko Widodo. Namun ternyata, masih ada dua orang tokoh Negara yang saat itu memimpin Indonesia di saat-saat penting.  Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat, mereka pernah memimpin Indonesia pada masa-masa genting. Usia memimpin yang singkat mengakibatkan kedua tokoh ini tidak diketahui atau terlupakan oleh rakyat Indonesia. Indonesia bisa saja di rebut kembali oleh para penjajah karena saat itu kondisi pemerintahan sedang kosong.

Sjafruddin Prawiranegara saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, ia mengusulkan untuk pembentukan pemerintahan darurat demi meneruskan Pemerintahan Replublik Indonesia. Saat itu Presiden Soekarno dan Hatta bersama pemimpin Indonesia natau tokoh-tokoh nasional sedang berada dalam pengasingan menuju pulau Bangka oleh Belanda pada saat Agresi Militer Belanda kedua. Beruntunglah saat itu Sjafruddin sedang berada di Bukittinggi Sumatra Barat sehingga terhindar dari pengasingan tersebut.

Usul yang terfikirkan oleh Sjafruddin ini senada pula dengan telegraf yang dikirimkan oleh Ir. Soekarno yang memberi kuasa kepada Sjafruddin Prawiranegara untuk memimpin pemerintahan. Setelah itu Sjafruddin mengadakan rapat pada tanggal 19 Desember 1948 yang berlokasi di dekat Ngarai Sianok Bukittinggi. Keputusan dari rapat tersebut pun menyetujui untuk pembetukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang bertujuan untuk mengisi pemerintahan yang dalam keadaan kosong.

Pada tanggal 22 Desember 1948, PDRI diproklamirkan beserta Sjafruddin menjadi pemimpin dengan dibantu oleh kabinet kerja yang di antaranya S.M. Rasjid, Ir. Manati Sitompul, T.M. Hasan, Lukman Hakin, Marjono Danubroto serta Ir. Indracahya. PDRI  saat itu menjadi musuh bagi Belanda satu-satunya semua tokoh PDRI terus mengusir para penjajah walau saat itu dalam keadaan sulit.

Sementara itu Mr. Assaat pun mengalami permaslah yang sama saat ia di angkat menjadi Presiden sementara Indonesia. Pada tahun 1949 Mr. Assaat terpilih menjadi Presiden saat Republik menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS adalah sebuah Negara yang di bentuk oleh Belanda yang terpisah dari NKRI pada saat itu. Para pejuang Indonesia sudah membaca stategi Belanda yang ingin menguasai Indonesia dengan terbentuknya RIS tersebut. Belanda menjadikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai Presiden dan Perdana Menteri dalam Republik Indonesia Serikat setalah di adakannya Konferensi Meja Bundar (KMB), dengan hal tersebut maka Negara Indonesia  mengalami kekosongan Pemimpin sebagai Pemerintah.

Akhirnya Mr. Assaat pun terpilih sebagai pemimpin sementara Presiden Republik Indonesia. Seandainya Mr. Assaat tidak mengambil alih kekosongan tersebut, Belanda akan sangat mudah untuk menduduki dan menguasai Indonesia. Pada tanggal 15 Agustus 1950, Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dimana masa jabatan Mr. Assaat saat itu sekitar Sembilan bulan dan kemudian kursi Pemerintahan dikembalikan kembali kepada Ir. Soekarno.

Maka bayangkan jika saat itu Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat tidak menggantikan kursi Pemerintahan, maka bisa saja Belanda kembali menguasai Negeri ini karena telah kosongnya kursi kekuasaan saat itu. (Ariya Dharma)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.