Cerpen – Aku Ingin Jadi Apa

Cerpen – Aku Ingin Jadi Apa

2
BERBAGI
Sumber foto: Harapan Rakyat Online

Aku Ingin jadi Apa
Oleh Glind

Minggu pagi ini tidak biasa, rumah yang biasanya hannya ada jeritan adik, omelan ayah dan suara memasak ibu. Keramaian rumah ini bertambah dengan pulangnya kakak-kakak ku dari pekerjaannya. Untung saja kakek dan nenek tidak berkunjung minggu ini, kalau sampai berkunjung pasti, aku yang jadi sasaran ibu untuk beli ini beli itu kesana ke situ. Padahal aku ingin seperti semalam begitu tenang begitu nyaman ditemani cahaya ciptaan tuhan dengan buku-buku terutama buku filsafat dan buku terjemahan. ‘Indahnya malam itu..’

‘Mel! Kamu mikirin apa? Jangan – jangan kamu punya pacar ya..!?’

‘Hee–h’ wajahku memerah ‘Bukan-bukan BUKAAANN!. Ka Andisi ngawur aja!’

Pecah gelaktawa pagi itu melihat respon hiperbolaku.  Tapi yang paling lebar dan paling puas tertawa adalah dua kakak yang setiap pulang memiliki ritual yang entah dari zaman Paleo javanicus pertama lahir sampai zaman terminator jadi konduktor acara opera cina di Australia yang artinya kalau aku belum sekarat mereka engga akan bosen ngebuat adik kecil, mungil, dan hampir terkucil karena kecenderungannya dengan buku-buku terutama filasafat yang tebal sejak kecil, mereka akan terus membuatku teriak atau bertingkah aneh. Meskipun mereka selalu jail terhadapku di setiap keusilan mereka ternyata memiliki motif lain. YA! Motif lain, pasti mereka berdua ingin merekrutku untuk menjadi asisten pribadi mereka. Tapii–, kalau mereka benar merekrutku aku akan memilih apa ya?

‘hmm.. kalau seperti Ka Andisi Dokter Spesialis Saraf yang jarang pulang karena dapet panggilan dari Rumah Sakit Internasional terutama untuk bagian saraf otak, kurasa itu akan menyenangkan jalan-jalan sambil ngodol-ngodol daleman orang. YEAH!’ mengepalkan tangan keudara.

‘Ade Melenium–?!’ panggil Abang pertama

Aku tertawa mesem karena, ‘AAA–!!‘ teriak dalam hati. Mereka hannya menyambut tawaku dengan tawa hambar juga, ya bagaimanapun itu tidak cocok jadi bahan tertawaan. Kecuali–, aku menoleh ke Ka Andisi dan Ka Risma. Mereka menutup mulut mereka, sudah kuduga!

‘Mel, kamu kayanya ada batin ya? Mau ikut abang aja biar engga ngebatin? Kita latihan ala militer’ mataku terbelak dan entah apa yang ada dipikiranku sekarang. Membayangkan siksaan yang amat-amat sangat mengerikan terutama mendengar bahwa abang yang megajak. Tidak-tidak, tidak. ‘dan mel, kalau kamu ikut sebulan kedepan kamu bakalan latihan di utara Indonesia tepat berbatasan dengan laut Brunei  dan pastinya pasokan makanan hannya cukup untuk 2 malam dan itu juga hannya untuk 3 orang’ matanya bersiar semangat.

Ku menggeleng pelan dengan harapan panjang agar jelas terpampang bahwa Bang! Adikmu ini perempuan TUULEN! Dan tanpa sadar ku menulisnya di kertas lalu kutempelkan dijidat.

Beberapa saat keheningan sempat menari–nari riang gembira melihat polah tingkah ku yang diatas rata-rata. Ka Risma membuka percakapan yang secara perlahan aku mendengarkan dan terseret keruang nolstagia yang berisi pengalaman-pengalaman gadis dari keluarga Bapak Nusa Sastra yang kecil mungil dengan suara yang bisa bikin pusing sangking melengkingnya, hehe. Ruang nolstagia yang sebenarnya aku sendiri tidak ingin memasukinya kembali karena sepengalamanku dalam urusan sosial yang ku dapat hannya tatapan iri dengan gibah-gibah yang berserakan ketika gadis imut nan lucu ini melintas. Mungkin mereka berpikir bahwa aku yang bersekolah di fasilitas pribadi dan dapat seenaknya mendapatkan nilai akademik maupun non-akademik dengan nilai yang setinggi-tingginya. Hal itu selalu membuatku terasa terganjal ketika berkumpulnya keluarga kecil yang hampir membuat ke sembilanan ini.

‘Harpaah’ panggil ibu lembut ‘nak, sebentar lagi kan kamu lulus sekolah. Kamu mau jadi apa?’ lengkap dengan logat jawa timurnya.

Mati kita Ibune. Engga inget apa bencana apa yang timbul gara-gara pertanyaan simpel namum mematikan itu? Dulu, ya dulu sesaat setelah Negara Api menyerang. Para penduduk resah dengan ego dari pihak tertinggi. Di sana pecah lah pertempuran ideologi yang menimbulkan lengkingan, dentuman, cacian, dan segala aksesoris kebun binatang ditambah dengan suasana mencekam. Eh –eh bukan itu intinya.

‘aa– Harpah belum tau buk’ suara menghalus dan pelan

‘kalau begitu ikut Ka Risma aja ya! Kamukan jago bikin strategi sama perawata medis Mel’

Itu dia Ka Rismah! Harpah engga mau urusan bunuh demi damai dan damai jadi bunuh-bunuhan. ‘hehe, engga deh Ka Risma nanti bukannya Harpah jadi crops elite yang baik malah kaka usilin tiap hari. Jadi engga deh’ Untung ada jawaban cadangan. Hela nafas.

Saat ku memperhatikan sekitar sekarang sudah telat untuk berkata bahwa aku kenyang dan aku ingin tidur sekarang. Betapa sialnya nasibku sebentar lagi bencana akan dimulai.

‘Harpah’ panggil ayah lembut.

‘Iyah yah?’ kuharap tidak asal comot seperti biasanya ya yah.

‘Ayah mau tanya, jawab yang jujur dan mantab oke? Kamu mau jadi apa?’

‘Filusuf!’ Aku berdiri dan mengacungkan telunjuk dengan antusias. ‘Harpah ingin seperti Descartes yang memposisikan dirinya dari dunia yang sempit diakal luas dicari dan berpikir adalah jalan untuk bersyukur atas ciptaan–Nya sekaligus mentakzimi dunia ini. Harpah ingin membuka mata para sesepuh yang mulai malas untuk berusaha demi anak cucunya!’

Oh, aku kelepasan. Dan Abang Khoir sepertinya paham membawa adik untuk bermain keluar karena setauku Abang Khoir adalah satu-satunya anak selain aku dikeluarga ini yang tidak menyukai konvrontasi . Abang Khoir andai langit masih bisa dipijak seperti saat Adam belum memakan buah terlarang. Aku janji bang kamu satu-satunya orang yang bakalan tau rahasia Harpah yang terdalam.

Plak~

Aku mengelus kepalaku karena dijitak Abang Khoir. Lalu

‘Bagus, Bapak setuju kalau kamu jadi filusuf harpah’ mengajak tos.

Alhamdulillah, aku bisa bebas dari ikatan dinas dunia yang menyebalkan.

Ibu menggebrak meja dengan cangkir tehnya. ‘Lha.. Bapak piye toh, harpah iku perempuan. Kalau dia jadi filusuf. Nasib anaknya gimana? Mau ikut-ikutan gendeng koyo Harpah?’

Akan lebih efisien dan jelas karena percakapan selanjutnya berbahasa daerah dunia. Amarah ibu didukung kaka nomor tiga, Ka Andisi, dan partnernya mengerjaiku Ka Risma. Dan di kubu pembela ku ada ayah dan abang nomor satu. Duduklah aku di tengah mereka manjadi juri siapa yang akan kuturuti. Tetapi, anganku melayang mencoba menerka bintang dari terangnya cahaya matahari siang; mencoba meraba dan menerawang jauh ke awang-awang yang selama ini kusembunyikan. Aku sebenarnya ingin menjadi apa?

Dalam manguanku. ‘oh, bang Khoir . mengapa engkau hannya memboyong Bintang. tidak dengan Harpahnya sekalian. Apakah ini yang dikatakan kesanksian bintang karena matahari yang membuat bumi berotasi tanpa henti dengan harapan cinta tulus dari kehangatan yang selama ini ia cari? Oh, ya Allah mengapa diciptakan kedamaian dengan keributan sebagai suatu wujud yang berbayang? Padahal ketenangan terjadi karena tidak melakukan apa apa untuk diri sendiri. Paradoks yang mengikat antara raga dengan jiwa, jiwa dengan status, status dengan keberadaan, keberadaan dengan pemikiran, pemikiran dengan..(Tuhan)’ kutatap perlahan pergulatan itu, sepatah kata berfrasa ganda dengan klausa atasan yang setiapkali keluar menuturkan rima dan ritme pengulangan cressendo.

ya, Allah Harpah berserah diri padamu atas berkah-Mu harpah memohon diberi jalan yang Engkau berkahi dan Harpah ingin berkah yang Engkau berikan menjadi berkah bagi seluruh alam. Aku melihat ke jendela, seseorang melambaikan tangannya sebagai tanda aku diajak bersamanya. Rasa bahagiaku gambar dengan sumringah senyumku. Meski kurasa tidak cukup menggambarkan betapa inginnya aku menjadi kupu-kupu yang bebas. Betapa inginnya aku menghisap nektar bunga apa saja yang aku temui dan aku cari. Ini menjadi awal perjalananku tak perduli siapa yang menentang tetap akan ku tapaki.

Aku berdehem cukup keras. ‘Tuan-tuan dan Nyonya sekalian. Perdebatan ini sepertinya sia-sia saja. Maka selaku Hakim Kepala, aku; Harpah menyatakan bahwa perjalanan dibangku kuliah sudah kutetapkan dan tidak ada yang boleh menentang. Harpah ingin menjadi Filusuf. Sekian’

Aku pergi keluar dengan senyum tersungging lebar menyapa kedua laki-laki di luar rumah itu; Bintang dan Bang Khoir.

Muhammad Khoirur Roziqin Nasution – Jakarta, 11 maret 2017

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.