Ini yang Menyebabkan Sevel Bangkrut di Indonesia Versi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)

Ini yang Menyebabkan Sevel Bangkrut di Indonesia Versi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)

0
BERBAGI

KATAMEDIA.CO –  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani angkat bicara mengenai tutupnya gerai 7-Eleven atau yang lebih dikenal “Sevel” per 30 Juni 2017 mendatang.

Haryadi menduga, tutupnya gerai sevel lantaran tergerusnya pendapatan dari penjualan minuman beralkohol (minol) yang menjadi salah satu pangsa pasar 7-Eleven, dan kurang solidnya menejemen perusahaan terutama dalam menghadapi persaingan.

Adapun larangan penjualan minol berlandaskan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol, yang diterbitkan era Menteri Perdagangan Rahmat Gobel.

“Konon katanya yang menyebabkan drop, karena penjualan minol tidak boleh. Mereka mulai kehilangan salah satu competitive advantage dibanding yang lain,” ujar Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani di sela acara halalbihalal di kawasan Senayan, Senin (26/6).

Selain itu, saat Permendag tersebut keluar, Kementerian Perindustrian mencatat volume produksi minol golongan A turun hingga 24,3 persen, dari 262,5 juta liter ke 198,7 juta liter.

Sementara, berdasarkan data Gabungan Industri Minuman Malt Indonesia (GIMMI), penjualan minol di ritel jenis minimarket memang menurun, padahal sebanyak 10-12 persen penjualan minol bergantung pada minimarket.

Tidak hanya karena tergerusnya pangsa pasar, Hariyadi melihat, ada pula dampak kemunduran usaha dari sisi manajemen dan rencana bisnis yang kurang kuat dibandingkan dengan kompetitor sejenis.

“Persaingan dunia usaha saat ini semakin ketat. Kami lihat mungkin kesiapan manajemen, apakah cukup solid untuk mengantisipasi persaingan,” kata Haryadi.

Menurut Hariyadi, kalau pengusaha ritel tak memunyai konsep penjualan yang kuat, akan mendapat rintangan berat.

Apalagi, Sevel muncul setelah Alfamart dan Indomaret menjamur di Indonesia, sehingga membutuhkan konsep yang kuat untuk menghadapi persaingan.

“Biasanya, pemain yang datang belakangan terkonsentrasi di beberapa titik. Circle K kuat di Bali, dekat dengan klien turis. Jadi harus punya kunci yang kuat untuk melangsungkan bisnisnya,” terangnya.

Selain masalah konsep, Hariyadi menilai Sevel tutup karena tersandung masalah keuangan. Akuisisi aset dan bisnis Sevel dari PT Modern Sevel Indonesia kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia juga batal.

“Itu juga menjadi permasalahan, karena tidak ada tambahan modal. Mau tidakmau, gerainya tutup,” tukasnya.

Kendati begitu, permasalahan 7-Eleven ini, dirasa Apindo tak akan menggangu iklim usaha bisnis ritel. Pasalnya, masih ada sejumlah pemain ritel besar yang mampu bertahan dan menguasai pasar.

“Tak ada, dampak dari Sevel. Kalau Alfamart dan Indomaret (yang bermasalah)  baru kami bermasalah juga, karena karyawannya banyak banget. Sevel tidak terlalu,” ungkap Hariyadi.

Seperti diketahui, 7-Eleven yang berada di bawah PT Modern Internasional Tbk terpaksa menutup seluruh gerainya pada akhir bulan ini. Direktur Modern Internasional Chandra Wijaya mengatakan, penutupan 7-Eleven lantaran adanya keterbatasan sumber daya yang dimiliki perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai itu.

Alhasil, satu per satu gerai 7-Eleven terpaksa gulung tikar sejak tahun lalu. Sejak tahun lalu, tercatat, sebanyak 25 gerai sudah tutup. Sedangkan sampai Maret 2017 lalu, jumlah gerai yang ditutup bertambah 30 gerai. (ALDI) 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.