Setrum Siswa SD, Kepala Sekolah Dipanggil Wali Kota Malang

Setrum Siswa SD, Kepala Sekolah Dipanggil Wali Kota Malang

0
SHARE
copyright©detik

KataMedia.co – Tjipto Yuhwon, Kepala Sekolah SD Negeri III Lowokwaru, Kota Malang, dibebas tugaskan atau dinon-aktifkan oleh Pemkot Malang melalui Dinas Pendidikan.

Tjipto dianggap menyalahi aturan karena memberikan hukuman yang tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan kepada 4 siswa. Wakil walikota Malang, Sutiaji bersama komite sekolah dan guru-guru menggelar rapat tertutup membahas insiden yang mencoreng wajah pendidikan Kota Malang tersebut.

“Sudah ada pemanggilan dan penangan khusus masalah ini. Kami sudah melakukan pemanggilan melalui Dinas Pendidikan,” kata Wali Kota Malang, M Anton usai upacara Hari Pendidikan Nasional di Balai Kota Malang, Selasa (2/5/2017).

“Saya sudah memberi sanksi kepada Kepala Sekolah, sanksi administrasi ke Dinas Pendidikan. Soal sanksi bagi PNS sudah ada aturan disiplinya, PP no 33 dan PP no 12 tahun 2017,” sambung Sutiaji.

“Mekanismenya kana diatur, dipecat tidak mungkin karena akan dilihat kesalahanya tapi sekarang sudah dibebas tugaskan dan diadministrasikan itu sudah jelas,” imbuhnya.

Anton menyebut, apa yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap siswanya itu untuk terapi kesehatan. Namun dia menilai, penyetruman yang disebut sebagai terapi listrik itu terlalu berbahaya dan tidak ada koordinasi langsung dari pihak sekolah ke Pemerintah Kota Malang.

“bukan berarti disetrum, bukan. ada metode yang disampaikan kepada kita untuk semacam kesehatan untuk pola pikir lah. Tapi maksud baik itu yang belum pernah diajukan kepada kita atau koordinasi,” ucap Anton.

Menurut dia, terapi kesehatan dengan menggunakan listrik merupakan sesuatu yang tidak lazim.

“Kesalahannya ini kan tidak lazim. Paling tidak pernah ada koordinasi. Sebenarnya untuk kesehatan, cuma salahnya ini,” katanya.

Didampingin orang tuanya, Anita, RA mengaku bahwa penyetruman dengan tujuan terapi itu membuat sejumlah organ tubuhnya ngilu, bahkan mimisan. Penyetruman itu terjadi pada Selasa (25/4/2017) pekan lalu.

Menurut RA, ada empat siswa yang disetrum. Selain dirinya, rekannya, MK, MZ, dan MA juga mengalami hal yang sama.

Penyetruman itu dilakukan dengan menggunakan dua papan kecil yang di aliri tegangan listrik. Satu papan untuk tempat siswa dan satu lagi untuk Kepala Sekolah.

Selama proses penyetruman, kepala sekolah memegang tespen untuk melihat tegangan listrik yang masuk ke tubuh siswa.

“Atas nama Pemerintah Kota malang saya minta maaf. Jika ada gangguan psikis dan fisik yang perlu diselesaikan,” tandasnya. (Andre)

LEAVE A REPLY