Wisata Napak Tilas Kemerdekaan Indonesia

Wisata Napak Tilas Kemerdekaan Indonesia

0
SHARE
Makam Bung Karno di Blitar © Aleksandar Todorovic /shutterstock

Pada 17 Agustus mendatang, Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-71. Untuk merayakan hari kebebasan Indonesia dari penjajahan, kita bisa melakukan kegiatan yang positif seperti membuat perjalanan kilas balik untuk mengenang jasa pahlawan dan menumbuhkan kembali jiwa nasionalis dengan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Indonesia seperti berikut ini:

Wisma Menumbing
Wisma Menumbing merupakan tempat pengasingan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Rumah ini terletak di atas Bukit Menumbing, Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat.

Selain berada di ketinggian 450 meter di atas permukaan laut, letak wisma ini juga cukup terpencil dan dikelilingi hutan. Lokasi yang memang tepat untuk pengasingan karena akses ke dunia luar memang sangat terbatas.

Saat ini, di dalam Wisma Menumbing masih ada ruangan rapat yang cukup luas, kamar tidur dan tempat Soekarno bekerja, serta mobil Ford yang pernah digunakan Soekarno. Pada bagian teras, Anda bisa menemukan lonceng tua yang diikat di tembok. Konon, lonceng tersebut biasa dibunyikan untuk memanggil tentara Belanda agar berkumpul.

Sejarah pengasingan ini juga bisa terlihat dari surat-surat dan foto-foto yang terbingkai di ruang kerja Bung Karno. Ada pula tulisan dari Ali Sastroamidjojo dan foto-foto pemimpin bangsa Indonesia yang pernah diasingkan di Pulau Bangka, dan juga tulisan-tulisan tentang kontribusi terhadap pembangunan di Bangka yang sudah mereka lakukan selama di Menumbing.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Pada awalnya, gedung yang jadi museum ini dikelola oleh perusahaan asuransi bernama PT Asuransi Jiwasraya. Kemudian gedung diambil alih oleh British Consul General. Pada masa pendudukan Jepang sampai September 1945, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda.

Setelah Jepang kalah, gedung ini menjadi markas tentara Inggris. Saat masa perang berakhir, gedung ini sempat dikontrak oleh Kedutaan Inggris dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sampai akhirnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto memerintahkan DIrektorat Permuseuman untuk menjadikan gedung tersebut menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Di dalam museum terdapat beberapa ruangan yang jadi saksi sejarah kemerdekaan Indonesia. Mulai dari ruangan yang dipakai untuk persiapan perumusan naskah proklamasi, ruangan rapat sekaligus tempat Soekarno membuat konsep naskah proklamasi, dan ruang pameran benda-benda yang digunakan para tokoh yang hadir dalam perumusan naskah proklamasi, seperti jam tangan, pulpen dan baju-baju.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini berlokasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Anda bisa datang ke museum ini sebagai bagian dari napak tilas kemerdakaan Indonesia.

Tugu Proklamasi
Tugu Proklamasi terletak di tanah lapang kompleks Taman Proklamasi, Jalan Proklamasi atau yang dulunya dikenal dengan nama Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Di taman ini terdapat dua patung besar Soekarno dan Hatta yang dibentuk seperti saat keduanya membacakan naskah proklamasi.

Selain patung, ada juga tiang dengan ornamen berbentuk petir sehingga sering disebut dengan nama Tugu Petir. Di tiang tersebut, tertulis kata-kata “Disinilah dibatjakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta” dan biasa digunakan untuk mengibarkan bendera merah putih.

Gedung Joang ’45
Tempat napak tilas kemerdekaan Indonesia lainnya adalah Gedung Joang ’45 atau Museum Joang 45 di Jalan Menteng Raya 31, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Pada awalnya, gedung ini merupakan bangunan Schomper Hotel yang dibangun sekitar 1920-1938, yang dikelola oleh L.C. Schomper, seorang warga keturunan Belanda. Lalu, saat kependudukan Jepang, hotel ini diambil alih oleh Ganseikanbu Sendenbu (Departemen Propaganda).

Gedung ini juga sempat menjadi markas program pendidikan politik yang diadakan bagi sejumlah tokoh pemuda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, A.M Hanafi dan Adam Malik. Saat ini, gedung yang telah berfungsi sebagai museum dan pengunjung bisa melihat koleksi benda-benda peninggalan para pejuang Indonesia.

Di bagian dalamnya, kita bisa melihat mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama yang dikenal dengan mobil REP 1 dan REP 2, dan Mobil Peristiwa Pemboman di Cikini. Ada juga koleksi foto-foto dokumentasi dan lukisan yang menggambarkan perjuangan sekitar tahun 1945-1950-an.

Beberapa fasilitas museum antara lain ruang pameran, Bioskop Joang 45 untuk menayangkan film perjuangan, perpustakaan, ruangan anak, dan studio foto untuk pengunjung yang ingin mengabadikan momen di museum ini lengkap dengan kostum para pejuang.

Monumen Nasional
Saat pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka.

Pembangunan ini bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945. Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni, yaitu lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia.

Di bagian dasar monumen, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Di museum tersebut, ada 51 diorama yang mengelilingi gedung dan menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru.

Saat ini, wisatawan dapat naik ke puncak Tugu Monas dari pukul 08.00-16.00 WIB dan 19.00-22.00 WIB di hari Selasa-Jumat dan 19.00-00.00 WIB pada Sabtu, Minggu dan hari libur.

LEAVE A REPLY