Mewaspadai Radikalisasi di Kalangan Remaja

Mewaspadai Radikalisasi di Kalangan Remaja

0
SHARE

Masyarakat saat ini sudah harus lebih serius memberikan perhatian terhadap gerakan radikalisasi yang dilakukan terutama di kalangan anak-anak remaja usia sekolah. Kelompok ideologis Jihadi beberapa tahun belakangan ini secara ekstensif dan intensif memilih strategi dan cara-cara yang diyakini lebih efektif, persuasif dan atraktif untuk merekrut anak-anak remaja menjadi pendukung ideologi “jihadisme”.

Pasca al-Qaedah kelompok ini cenderung membangun jaringan berbasis ICT untuk memperluas dan memperkokoh jihadisme global. Penggunaan internet, website, video, video games, bahkan komik, instagram dan lain-lain menjadi pilihan untuk menarik perhatian, meyakinkan pentingnya ideologi jihadisme ini. Anak-anak remaja usia sekolah ini tercatat sebagai pengguna setia media-media ini.

Hampir waktu-waktu panjang dalam kehidupan sehari-hari mereka manfaatkan untuk chatting, video games dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit anak-anak ini bersedia untuk mengurangi jatah tidur di malam hari (begadang) karena asyik dengan media-media ini. Melalui media dan pendekatan seperti inilah kelompok teroris melalukan indoktrinasi terhadap anak-anak remaja dengan cara-cara yang menyenangkan, menghibur, mengesankan dan efektif. Lemahnya pengetahuan tentang agama juga menjadi peluang yang sangat baik bagi kelompok teroris untuk mempengaruhi alam pikiran dan keyakinan anak-anak remaja.

Inilah global atau modern terrorism yang lebih cenderung memanfaatkan atau menggunakan media sosial untuk memperluas jaringan jihadisme. Banyak yang mengatakan ini juga disebut sebagai “cyberterrorism” yang nampaknya sangat efektif untuk memperkenalkan jihadisme khususnya di kalangan remaja, merekrut remaja dan kemudian menyediakan berbagai training bagi remaja sehingga mereka menjadi kader-kader militan.

Karena itu, orang tua harus lebih peduli terhadap apa yang dilakukan oleh putra-putri mereka dengan gadget. Membiarkan mereka memainkan gadget, sama saja memilih langkah destruktif bagi putra-putri mereka. Orangtua dan lembaga-lembaga pendidikan haruslah memperkuat komitmen mereka untuk menyelamatkan masa depan anak-anak.

Jangan biarkan peran orang tua dan lembaga-lembaga pendidikan dibajak oleh ideologi jihadisme yang jelas-jelas menyesatkan dan menghancurkan. Tidak sedikit contoh anak-anak remaja laki- laki dan perempuan di banyak negara yang hilang karena ternyata telah bergabung dan memainkan peran-peran tertentu di gerakan jihadisme ini, antara lain penghimpun dana, penanggung jawab logistik hingga serangan bom bunuh diri sekalipun.

Tercatat pada tahun 2015, ada sekitar 500 orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Yang mengejutkan ialah 50% dari mereka adalah anak-anak muda. Jadi, tidak ada alasan bagi orang tua, lembaga-lembaga pendidikan dan kekuatan civil society lainnya untuk berdiam diri merasa aman karena bahaya ancaman terorisme ini ada di depan kita dan anak-anak kita saat ini menjadi target penting.

Sudarnoto Abdul Hakim

Penulis adalah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (FAH-UIN) Jakarta, Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI dan Ketua Dewan Pakar Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

LEAVE A REPLY