Pariwisata dan Bayang-bayang Bencana

Pariwisata dan Bayang-bayang Bencana

0
SHARE
AMINOER RASYID/SUMUT POS Warga menyelamatkan diri dari letusan Gunung Api Sinabung di Desa Namentren, Kabupaten Karo, Selasa (17/9). Letusan gunung tersebut mengakibatkan Kota Brastagi tampak penuh debu vulkanik dan Kota wisata tersebut seperti kota mati dari aktifitas.

Keindahan alam Indonesia adalah topik pembicaraan yang tak pernah habis. Dengan 17 ribu pulau, Indonesia adalah negara kaya yang memiliki bentang alam nan beragam dan segala keunikan budayanya.

Daya tarik wisata menyebar di segala penjuru  merupakan aset berharga pariwisata yang sudah semestinya dijaga dan dikelola dengan cara yang tepat. Namun, di balik sejuta pesona yang dimiliki, Indonesia berada dalam bayang-bayang bencana  yang dapat terjadi kapan dan di mana saja.

Mari sejenak kita tengok sejarah kebencanaan Indonesia. Ada letusan gunung berapi maha-dahsyat yang konon mampu mengubah iklim dan peradaban dunia pada saat itu. Sebut saja Toba, Tambora, dan Krakatau. Ring of Fire, itulah negara kita, negara cincin api yang dikelilingi banyak gunung api aktif yang kian hari memperlihatkan gejolaknya.

Wilayahnya pun terletak pada zona tiga lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Dengan pergerakannya, dapat menimbulkan patahan aktif di dasar laut maupun daratan. Indonesia pun semakin rentan terhadap bencana geologis, baik gempa bumi dan tsunami. Belum lagi bencana lain, semisal longsor, banjir, kekeringan, angin topan, dan beragam bencana alam lainnya.

Mungkin masih lekat dalam ingatan: Tsunami Aceh di penghujung 2004, Pangandaran pada Juli 2006, dan Mentawai di Oktober 2010. Tak hanya menarik perhatian nasional, bencana-bencana tersebut menarik perhatian dunia internasional.

Baik pesisir pantai Aceh, Mentawai, Pangandaran sama-sama memiliki daya tarik yang memikat para wisatawan untuk datang berkunjung. Resort-resort pun telah banyak berkembang. Namun, di balik keelokannya, pesisir tersebut menyimpan potensi bencana tsunami yang kerap menjadi ancaman bagi sebagian wisatawan dan masyarakat.

Satu hal lagi, frekuensi terjadinya tsunami memang tidak sesering bencana lain, tetapi coba bandingkanlah dampak setelahnya. Tak sedikit korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkannya.

Kita juga saksikan, Gunung Merapi dan Kelud telah memuntahkan materialnya. Padahal, gunung api tersebut menjadi destinasi favorit, tidak hanya dari kalangan pendaki saja. Bencana alam pada akhirnya mengurangi angka kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara untuk datang ke destinasi-destinasi tersebut. Hal itu disebabkan penutupan sejumlah bandara yang berdampak pada ratusan jadwal penerbangan sehingga harus dibatalkan.

Saat Merapi erupsi misalnya, angka kunjungan wisatawan ke Jogja menurun hingga 80%. Pemerintah Kabupaten Sleman yang menyatakan bahwa kerugian akibat erupsi Kelud mencapai 2 miliar perhari untuk hotel dan restoran.

Mitigasi Bencana

Bencana yang datang silih berganti, bukan tidak mungkin untuk diantisipasi. Ada upaya mitigasi bencana yang dapat dilakukan sedini mungkin. Setidaknya untuk meminimalisasi korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan pascabencana yang akan datang.

Pertama, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, khususnya lembaga terkait kebencanaan seperti BNPB, BPBD, dan para pelaku pariwisata dalam upaya mitigasi bencana menjadi suatu keharusan. Selain itu, pembangunan infrastrukturterutama di destinasi pariwisata prioritas yang rawan bencana. Misalnya dengan membangun sistem peringatan dini (Early Warning System) di titik rawan bencana dan mendirikan shelter evakuasi sementara di tempat yang strategis dan aman dari bencana. Selain itu, diperlukan juga pemasangan jalur atau rambu evakuasi yang mengarahkan masyarakat dan wisatawan saat ada perintah untuk melakukan evakuasi.

Infrastruktur penunjang juga perlu mendapat perhatian, seperti pembangunan model hunian penduduk dan fasilitas kritis seperti rumah sakit dan sekolah. Fasilitas pariwisata seperti pusat informasi pariwisata (Tourism Information Center), hotel atau penginapan perlu dirancang sedemikian rupa sehingga tahan terhadap ancaman gempa.

Hal penting lainnya adalah membangun dan meningkatkan kapasitas masyarakat dan wisatawan karena mereka merupakan pihak yang pertama berhadapan dengan resiko bencana. Maka, penting untuk memberikan edukasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan kebencanaan di kawasan wisata rawan bencana tadi, seperti meningkatkan kesiapsiagaan,  mengatasi kepanikan ketika bencana datang, atau dengan mengadakan simulasi tanggap bencana.

Terakhir, travel warning atau peringatan untuk tidak mengunjungi destinasi yang sedang dalam siaga bencana penting untuk disosialisasikan, baik melalui media cetak dan elektronik.

Oleh karena itu, sektor pariwisata harus segera bebenah dan bangkit pascabencana melanda di suatu destinasi. Tahap recovery dan rekonstruksi menjadi suatu yang krusial. Pascaerupsi Merapi dan Kelud, dapat dibayangkan sedimen abu yang menutupi fasilitas dan infrastruktur yang ada. Atau runtuhnya bangunan karena gempa bumi dan tsunami.

Butuh waktu   tidak sebentar untuk membersihkan abu tebal dan puing-puing reruntuhan bangunan. Belum lagi menghilangkan trauma dan kesedihan yang menimpa sebagian besar korban. Semuanya membutuhkan pemulihan jangka panjang untuk kembali menata diri, termasuk industri pariwisata, menjaga citra suatu destinasi agar dapat menarik wisatawan datang berkunjung kembali.

Bencana, Komoditas Pariwisata

Di satu sisi, meningkatnya perjalanan wisatawan mengunjungi lokasi terjadinya bencana alam, lokasi pembantaian massal, peperangan, mengindikasikan adanya suatu tren pariwisata yang sedang berkembang, yakni dark tourism. Philip Stone, Direktur Institute for Dark Tourism Research, percaya bahwa para wisatawan yang mengunjungi tempat-tempat terjadinya bencana alam atau tragedi tertarik untuk mencari makna dan hikmah dari peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu.

Selain itu, mereka berkunjung untuk dapat menggali perasaan empati kepada para korban dan mengambil manfaatnya untuk kehidupan mereka sendiri.

Di Jepang, pascagempa bumi dan tsunami dahsyat yang menimpa Tohoku di tahun 2011, pada akhirnya mendatangkan banyak wisatawan untuk melihat sisa-sisa bencana dan mencoba berempati terhadap para korban.

Termasuk di Indonesia, pasca-erupsi Merapi, banyak paket-paket wisata yang menawarkan lava tour Merapi. Dengan menaiki jeep, wisatawan tak hanya diajak melihat panorama gunung dan pedesaan, tetapi juga berpetualang melihat jejak lahar dan daerah yang terkena dampak letusan dahsyat gunung api teraktif ini. Oleh karena itu, bencana tidak hanya mendatangkan sisi-sisi negatif, tetapi juga ada hal positif yang dapat diambil sebagai hikmah dan peluang, salah satunya sebagai produk wisata minat khusus ini.

Ida Ayu Rostini 

Penulis merupakan Kandidat Master Terapan Perencanaan Kepariwisataan, ITB.

LEAVE A REPLY